Novelet Religi “Sang Tokoh”: [4] Bau Ajaib Kebinatangan

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Jumat, 15 Maret 2024 | 16:23 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Seperti kala Sang Tokoh datang sebelumnya, suasana kebun binatang hari itupun masih sepi. Makanan orang untuk orang utan besar harus diberikan lebih dahulu ke pihak kebun binatang untuk diperiksa.

Di kebun binatang tidak boleh memberikan makan sembarangan. Ini untuk mencegah sakit dan kematian binatang yang ada di sana. Makanan yang diberikan harus dipastikan keamanannya. Sang Tokoh menitipkan makan itu kepada petugas, sementara dia menuju area binatang peliharaan.

Dia menuju kandang harimau. Di sana Sang Tokoh mematikan suara-suara binatang lain tetapi membuka saluran untuk komunikasi dengan harimau sebagaimana diberitahu oleh orang utan besar. Berhasil. Sang Tokoh mampu khusus berkomunikasi dengan harimau tanpa gangguan suara binatang lain.

Setelah itu Sang tokoh beralih pergi ke kandang ular. Kedatangan Sang tokoh langsung dikenali para ular. Terjadilah dialog khusus antara Sang Tokoh dan ular.

“Di sini kami kepanasan,” kata seekor ular.

“Kan ada air di kolam sebelah sana,” terang Sang Tokoh.

“Tapi airnya sudah kotor dan juga sudah panas kena matahari….”

“Nanti saya minta petugas untuk memandikan dengan air jernih dan dingin.”

Semua cara dan syarat yang diungkap orang utan besar ternyata benar adanya. Tak ada satupun yang meleset. Semuanya tepat. Akurat. Dia ingin mengucapkan terima kasih dan menjalin persahabatan panjang dengan orang utan besar itu.

Penuh keyakinan Sang Tokoh menuju kandang orang utan.

Sampai di sana dia tak menemukan orang utan yang dimaksud. Dipanggil berkali-kali, orang utan besar tidak menyahut sama sekali. Ada apa gerangan?

Dia bertanya kepada orang-orang utan yang ada di situ, ke mana rekan orang utan mereka yang besar. Sang Tokoh mendapat jawaban yang mencengangkan.

”Tidak ada orang utan terman kami yang sebesar seperti itu!” jawab salah satu orang utan disana.

 “Tapi saya seminggu lalu ketemu dan bicara dengan dia. Besar sekali,” Sang Tokoh menyanggah.

“Paling kuat dan besar dia,” kata orang utan tadi menunnjuk seekor orang utan.  Sang Tokoh memperhatikan orang utan yang ditunjuk, dia tidak ragu itu bukan oranh utan yang dia maksud. Tubuhnya orang utan ini tidak ada sepertiga dari orang utan yang berbicara dengannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB
X