Ketika mandi dan kepalanya sedang dibasahi, Sang Tokoh berkonsentrasi penuh. Dia berupaya menghilangkan sumber kemampuan mendengar dan memahami berbicara dengan hewan di kepala dan pikirannya.
Beberapa saat dahinya berkerut. Matanya sejenak terpejam. Dan, berhasil. Semua suara binatang yang dapat didengarnya lenyap. Tak ada lagi satupun suara binatang yang dapat didengarnya lagi setelah itu.
Sang Tokoh lebih tercenung sejenak. Dia tak tahu apakah dirinya dapat mengembalikan kemampuannya mendengar dan mengerti binatang atau tidak. Dia tak pernah punya pengalaman apapun sebelumnya mengenai hal ini.
Kalau pun kemampuannya hilang, Sang Tokoh sudah pasrah. Ikhlas. Baginya Allah memberikan kesempatan untuk merasakan dapat berkomunikasi dengan binatang, meski cuma sesaat saja, itu pun dirasakan Sang Tokoh sudah merupakan nikmat besar.
Jika lantas diambil kembali oleh pemilik-Nya, Sang Tokoh memastikan dirinya tak pernah menyesal. Sang Tokoh tetap merasa bersyukur. Apapun yang dari Allah, dipandangnya sebagai yang terbaik bagi dirinya. Demikian apapun yang diambil oleh Allah dari dirinya, Sang Tokoh rela dengan terima kasih yang meluap.
Pemberian dan pengambilan apapun oleh Allah dari dirinya baginya sama saja. Keduanya nikmat yang harus disyukuri. Nikmat yang pasti terbaik untuk dirinya dari Allah. Maka pemberian dan pengambilan apapun dari Allah, harus sama-sama disyukuri dengan tulus.
Dengan cara begitu Sang Tokoh sudah tidak lagi merasa pernah rugi. Tak lagi ada rasa cemas. Khawatir. Segalanya dihadapi dengan senang dan rasa bersyukur.
Ketika dia dapat mendengar dan berbicara dengan binatang, bagi Sang Tokoh hal itu anugerah. Amanah. Kemampuan yang perlu dilaksanaka dengan sangat hati-hati dan bijaksana.
Lalu manakala kemampuan itu diambil lagi dan dia sudah tidak dapat berkomunikasi dan berbicara dengan binatang, justeru tetap menambah keimanan dan ketaqwaannya. Dapat bicara dengan hewan, atau tidak dapat berbicara dengan hewan, pastinya buat Sang Tokoh bermakna keadaan sama.
Sang Tokoh berkonsentrasi lagi. Dia memusatkan lagi pikirannya. Mengulang lagi proses yang sama ketika dia menghilangkan kemampuanya berbicara dengan binatang, tapi kali ini justru untuk membuka lagi kemungkinan dapat berbicara dengan hewan kembali.
Jiwa raganya diarahkan ke proses mekanisme membuka faktor penutup sumber penghalang untuk medengarkan dan berbicara dengan para hewan. Sekitar tiga sampai lima menitan, tiba-tiba Sang Tokoh dapat kembali mendengar suara-suara binatang, sekaligus berkomunikasi dengan mereka.
Ini artinya, kemampuan Sang Tokoh telah kembali lagi. Sang tokoh pun tak habis-habisan bersyukur.
Berbagai macam pikiran menghinggapi Sang Tokoh. Bagaimana mungkin kemampuannya mendengarkan dan bicara dengan binatang dapat pergi begitu saja?
Muncul gagasannya: jangan-jangan semua itu sejatinya dapat dia dikendalikan. Siapa tahu Allah memang memberikannya kelebihan tidak sekadar dapat mendengarkan dan memahami suara hewan, tapi juga dapat mengaturnya. Dia dapat menghilangkan, namun lalu juga sekaligus mengendalikannya.
Sang Tokoh lantas kembali berkonsentrasi seperti awal. Betul saja. Suara hewan seluruhnya hilang. Pada saat itu, dia berkosentrasi melakulan seperti awal untuk menghadirkan kembali kemampuannya mendengar suara binatang. Berhasil. Demikian seterusnya berkali-kali dilakukannya, sampai akhirnya dia mahir mengendalikan.