“Bukan itu!” tegas Sang Tokoh.
Merasa tidak percaya dan yakin pasti ada orang utan besar yang sebelumnya bicara dengan, Sang Tokoh mendatangi pengelola kebun binatang.
Dia menanyakan ke mana orang utan besar yang dia lihat waktu datang. Petugas pengelola kebun binatang mendengarkan dengan seksama sampai penjelasan Sang Tokoh selesai.
Tentu Sang Tokoh tidak mengutarakan dia dapat bicara dan berkomunikasi dengan orang utan besar itu. Kalau dia ungkapkan kemampuannya dapat bicara , ada dua kemungkinan: Sang Tokoh dianggap orang gila, atau malah menimbulkan kehebohan.
Apalagi kalau sampai Sang Tokoh mengungkapkan dia mendapat pengetahuan dari si orang utan bagaimana caranya berkomunikasi khusus dengan jenis hewan tanpa diganggu suara hewan lainnya.
Dapat dipastikan Tokoh kita bakal dikirim ke rumah sakit jiwa. Oleh karena itu, Tokoh kita cuma memaparkan melihat orang utan besar di kandang. Dia senang melihatnya. Sekarang dia datang mau melihatnya lagi, tapi kok tidak ada.
“Memang orang utan sebesar yang dikatakan Anda, di sini tidak ada. Yang paling besar, ya yang ada di situ, dan dialah raja penguasa di kandang itu,” jelas petugas pengelola.
Mereka juga mengecek di daftar buku besar. Tak ada orang utan besar seperti dilukiskan Sang Tokoh.
“Tapi saya jelas melihatnya! Gak mungkin salah!” bantah Sang Tokoh agak kesal.
“Tapi faktanya, memang tidak ada. Kan tidak ada gunanya juga kami berbohong,” balas petugas pengelola tidak kurang kesalnya.
Sang Tokoh tidak kendor. Dia yakin seyakin-yakinnya dia benar-benar berjumpa dengan orang utan besar itu.
Sang Tokoh hampir saja mengungkapkan dia berbicara dengan orang utan, tapi cepat disadari hal itu bakal langsung dianggap fiktif. Akhirnya, Sang Tokoh minta diperbolehkan masuk dan memeriksa kandang orang hutan.
Walaupun merasa aneh dengan kengototan tamunya, petugas pengelola binatang mengizinkan Sang Tokoh ke kandang orang utan dan memeriksanya apakah benar ada orang utan yang besar sebagaimana di maksud Sang Tokoh.
“Tapi harus didampingi dan dikawal petugas kami. Juga harus hati-hati!” kata petugas pengelola kebun binatang.
Masuklah Sang Tokoh bersama petugas kebun binatang ke dalam kandang orang utan. Dia tidak berani bertanya kepada penghuni kandang itu, karena khawatir kemampuannya berbiccara dengan hewan terungkap.