Beberapa hari kemudian Sang Tokoh datang ke kebun binatang. Saat itu, karena bukan hari libur, kebun binatang relatif sepi. Hanya ada beberapa pengunjung. Dari yang sedikit pun ada yang sedang berasyik masyuk dengan pasangannya. Keadaan yang tidak ramai itu membantu Sang Tokoh berkonsentrasi penuh.
Sewaktu kepalanya agak pening lantaran dia tak mampu mencegah mendengar semua percakapan binatang yang ada di kebon binatang, dia berkonsentrasi seperti di kamar mandi. Benar, seluruh suara dan pembicaraan hewan lenyap dari kupingnya.
Dia berjalan ke depan beberapa langkah. Sang Tokoh konsentrasi lagi dengan cara yang sama. Kemampuan mendengar dan bicara dengan hewan, datang lagi. Berkali-kali diulangnya, Sang Tokoh telah mampu mengendalikan dirinya dengan cepat mendatangkan dan menghilangkan kehebatan berbicara dengan hewan.
Sang Tokoh berjalan mengelilingi sebuah blok di kebon binatang itu. Di kandang gajah dia berhenti. Dia dapat mendengar gajah berbicara, tapi hewan-hewan lain di sekitarnya juga dapat bicara dan terdengar jelas oleh Sang Tokoh.
Setelah berpikir sejenak Sang Tokoh berkonsentrasi lagi. Mengosongkan pikiran sejenak dan menutup segala saluran kemampuan untuk berkomunikasi dengan hewan, tetapi tetap membukanya khusus saluran untuk gajah.
Keringat mulai menetes di dahinya. Hasilnya? Dia gagal total. Dia masih mendengar semua suara binatang yang jarak tempuhnya sampai ke telinganya.
Setelah menenangkan diri, Sang Tokoh mencoba lagi. Caranya sama namun dengan sedikit varian cuma menampung kemampuan berkomunikasi dengan gajah.
Sang Tokoh seperti merasakan akan keberhasilan menutup semua komunikasi dengan binatang lain, kecuali gajah. Kemampuan mengatur hanya dapat bicara dengan satu binatang saja, sementara dengan binatang lain, dapat dihilangkan, serasa sudah dekat dialami Sang Tokoh.
Namun kala dilaksanakan buyar lagi. Kembali gagal. Dia tak dapat mengatur hanya bicara dengan gajah, tetapi bersamaan dengan itu tidak bicara dengan binatang lain, belum kesampaian. Sang Tokoh sendiri tak faham mengapa demikian. Apakah memang amanahnya seperti sekarang, ataukah ada sesuatu yang tak difahaminya. Sang Tokoh tidak tahu menahu.
“Hai, wahai kamu gajah yang besar, tahu tidak caranya cuma ngomong sama kamu dan tidak dengan yang lain?” tiba-tiba Sang Tokoh bertanya pada seekor gajah.
Gajah yang ditanya menggerakkan belalainya. Menatap Sang Tokoh. “Mana kami tahu,” jawab gajah dengan suara bahasa gajah.
”Kalo ditanya mau makan apa sekarang, kami tahu,” tambah gajah.
Sang Tokoh tersenyum. “Oke gajah. Terima kasih,” kata Sang Tokoh meninggalkan kawasan gajah.
Sambil berjalan, Sang Tokoh terus mencoba-coba, tapi selama itu pula tak pernah berhasil. Sang Tokoh tidak pernah berhasil hanya dapat bicara dengan satu jenis binatang saja. Kemampuannya berbicara dengan binatang harus dilakukan dengan mendengar semua binatang yang ada di sekitarnya.
Tak ada dalam benak Sang Tokoh pikiran lain kecuali menambah taqwa kepada Sang Pencipta. Dia berjalan ke arah pintu keluar. Dia ingin meninggalkan kebun binatang setelah memperoleh kepastian dapat mengetahui bagaimana pola mendengarkan dan menghilanglkan suara hewan serta berbicara dengan mereka. Itu pun bagi Sang Tokoh sudah luar biasa.