Oleh: Novrizon Burman
RENTETAN kecelakaan kerja yang terjadi di Wilayah Kerja (WK) Rokan kembali memantik sorotan publik.
Sejak pengelolaan blok migas terbesar di Indonesia itu beralih sepenuhnya ke Pertamina Hulu Rokan (PHR), sedikitnya 13 orang meninggal dunia, baik pekerja maupun warga sekitar area operasi.
Ironisnya, dalam periode yang sama, tiga Direktur Utama PHR justru memperoleh promosi jabatan.
PHR merupakan operator WK Rokan selama 20 tahun, terhitung 9 Agustus 2021 hingga 8 Agustus 2041.
Perusahaan ini menjalankan kegiatan bisnis dan operasional hulu migas di Regional 1 hingga Sumatera di bawah Subholding Upstream Pertamina.
Jajaran pimpinan perusahaan berganti tiga kali dalam tiga tahun terakhir.
Pada Mei 2021, Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Arizona Suardin ditunjuk menjadi Direktur Utama PHR menggantikan Ricardo Perdana Yudantoro.
Dua tahun kemudian, pada 22 Mei 2023, Chalid Said Salim menggantikan Jaffee yang dipromosikan menjadi Direktur Utama PT Pertamina International Eksplorasi dan Produksi (PIEP).
Pada 20 Februari 2024, giliran Ruby Mulyawan memimpin PHR menggantikan Chalid yang dipromosikan menjadi Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Kecelakaan di Rig AU-17
Gelombang kritik terhadap aspek keselamatan kembali menguat setelah kecelakaan rig terjadi pada Senin, 24 November 2025.
Seorang pekerja mitra PHR, A (43), meninggal dunia setelah menara Rig AU-17 roboh saat operasi pengeboran. Dua rekan korban mengalami patah tulang pinggang.
Corporate Secretary PHR Eviyanti Rofraida membenarkan insiden yang terjadi.
Menara rig dilaporkan bengkok dan jatuh ke arah catwalk.