Sang Tokoh hanya dengan teliti memeriksa kandang orang utan. Setiap sudut diperiksa. Tak hanya sekali, tapi berulang-ulang. Hasilnya: nihil. Tak ada orang utan besar yang dimaksud!!!
Kalau demikian, Sang Tokoh berpikir, ke mana gerangan orang utan besar yang telah memberitahu rahasia berbicara khusus dengan binatang?
Atau lebih tajam lagi pertanyaanya: benarkah orang utan itu memang ada?
Tapi kalau tidak ada, faktanya dia datang ke kebun binatang. Dia dipanggil orang utan besar. Dia bicara dengan orang utan besar. Lantas orang utan besar itu membuka rahasia cara dan syarat berkominikasi khusus satu jenis hewan.
Penuturan orang utan besar valid. Terbukti benar. Jadi, pasti memang orang utan besar tersebut benar ada. Tidak mungkin tidak ada.
Sebaliknya, kalau memang ada, pastilah sudah ditemukan. Para orang utan sendiri mengaku tak ada orang utan besar seperti yang dimaksud Sang Tokoh.
Mereka binatang jujur , tak mungkin berbohong. Berarti memang tidak ada.
Apalagi, di data pengelola kebun binatang juga membuktikan orang utan besar seperti itu tak ada. Ini memperkuat kenyataan, memang tak ada orang utan besar yang pernah dijumpai dan bertemu dengan Sang Tokoh.
Terakhir, Sang Tokoh sudah memeriksa sendiri kandang tempat Sang Tokoh dengan orang hutan itu. Jelas tak ada disana. Dari sini secara logika pastilah orang utan besar tersebut tak ada. Tidak mungkin ada.
Jadi?
Sang Tokoh mengambil kesimpulan, orang utan besar itu telah dikirim Sang Pencipta Langit dan Bumi berserta isinya, khusus untuk menerangkan kepada Sang Tokoh bagaimana cara berbicara khusus kepada satu jenis hewan tertentu saja. Setelah itu, dia ditarik kembali oleh Penciptanya.
Bagi Sang Tokoh apapun yang dikehendaki Alllah, dengan cara Allah, pasti terjadi. Tiada seorang pun dapat menghalangi. ***
Bersambung.
Wina Armada Sukardi, wartawan senior, advokat, sastrawan, Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah.