"Sudah dengar kabar?” terdengar suara di ujung telepon genggam Sang Tokoh.
“Kabar apa?”
“Ketua DKM kita baru saja meningggal dunia!”
Deg. Sang Tokoh sangat terkejut. Jantungnya seperti berhenti. “Innailahiwainailahirojiun.”
“Jantung.”
“Oh.”
“Tepat tiga bulan seperti Sang Tokoh bilang.”
“Oh…”
“Jitu sekali!"
"Ah, mungkin kebetulan saja,” elak Sang Tokoh.
Padahal sejatinya Sang Tokoh memang sudah mengetahui dalam tiga bulan ke depan almarhum akan dipanggil Sang Pencipta, tapi Sang Tokoh tidak mau mengungkapkannya terang-terangan. Dia tak mau kelebihan punya “indra keenam”, diketahui khalayak.
Di luar dugaan Sang Tokoh, justeru calon kedua inilah yang bercerita ke mana-mana, mewartakan Sang Tokoh sejak awal sudah mengetahui kematian itu dengan tepat. Dengan detail.
“Kayaknya, dia orang seperti wali, dapat menegtahui yang orang lain tidak tahu,” tuturnya ke mana-mana.
"Betul ya begitu?” ada yang tanya.
“Luar biasa. Kayak punya penegtahuan khusus. Mungkin aja dia orang sakti lho. Kalau enggak kan, saya waktu itu saya tidak akan mundur, tapi sesudah dia beri jaminanan, herannya saya langsung percaya. Langsung mengiyakan. Kalau orang biasa mana yakin dan tahu apa yang bakal terjadi" ungkapnya.