Novelet Religi “Sang Tokoh”: [6] Si Pahit Lidah

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Minggu, 17 Maret 2024 | 18:18 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Lantas apa yang terjadi? Dia sudah memimpin masjid beberapa generasi. Cucunya saja sudah mulai tumbuh remaja. Itu berarti usianya sudah merambat sepuh. Kendati tidak jatuh sakit-sakitan, usianya yang telah merambat lama membuatnya tidak selincah dan setangguh dulu. Dia harus mengatur kesehatannya dengan baik, sementara kegiatan masjid justeru bertambah banyak.

Sesuai saran dari dokter, keluarganya menganjurkan agar dia mengurangi kegiataannya, termasuk aktivitasnya di masjid.

Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari ketua masjid. Jemaah pun heboh. Tak ada yang menyangka ketua bakal mengundurkan diri, sehingga tak ada persiapan siapa yang akan menggantinya. Tak ada calon yang telah dipersiapkan.

Jemaah hanya sepakat, ketua lama menempati jabatan baru sebagai Ketua Dewan Pembina yang diberikan hak prerogatif menjatuhkan veto terhadap semua masalah yang ada.

Sebaliknya untuk ketua baru tak dicapai kesepakatan siapa yang pantas mengganti  ketua lama. Untuk mengisi kekososonganya disepakati diadakan musyawarah. Dibuatkanlah kriteria untuk ketua baru. Hasilnya, muncullah kedua calon ini.

Sepanjang adu pendapat atawa musyawarah tadi, kelihatannya belum ada tanda-tanda segera bakal terselesaikan. Kelompok pendukung masing-masing mempertajam perbedaan keduanya. Para pendukung lebih “ngotot” dari calon untuk meneruskan kontestasi.

Kedua calon duduk berseberangan dikelilingi para pendukungnya. Calon pertama duduk sebelah kiri dari pintu masuk, sedangkan calon kedua diduk di arah sebelah kanan. Dengan begitu di antara mereka ada cukup jarak. Secara harafiah maupun secara simbolis. Keduanya nampak berdiskusi dengan masing-masing pendukungnya.

Para jemaah lainnya duduk terpencar. Ada yang berkelompok dan ada pula yang sendiri-sendiri. Mereka yang duduk berkelompok tak kalah serunya berdiskusi dibanding kelompok calon ketua.

“Jika gak ada kompromi, dan dua-duanya tetap ngotot mau maju, lalu memilih voting, sudah saja dua-duanya gak usah dipilih,” terdengar seorang jemaah dalam sebuah kelompok berkata.

“Ya kita pilih yang lain aja,“ timpal yang lain.

“Kalau perlu kita minta ketua lama kembali tetap jadi ketua, ketimbang ada perpecahaan,” tambah jemaah lain di sebelahnya.

Sang Tokoh duduk tepat di arah depan pintu masuk. Dia bersandar pada tembok masjid memperhatikan keadaan. Sedari tadi dia tak banyak bicara. Memang dia tidak ada kepentingan langsung terhadap para calon.

Keduanyanya dia kenal baik, dan keduanya juga  kenal baik dengan dirinya. Baginya siapapun yang terpilih tak memberikan pengaruh apa-apa kepada dirinya. Dia cuma jemaah yang kebetulan sering terlibat aktif dalam kegiatan masjid. 

Memang tadi sempat ada beberapa jemaah sempat mencalonkan dirinya sebagai salah satu kandidat ketua. Agar tidak berkembang liar, dengan cepat dia menyatakan tidak bersedia dicalonkan.

Sang Tokoh merasa dirinya masih terlampau muda menyandang jabatan ketua DKM. Lagipula dia sendiri belum tentu memiliki waktu. Sejak popularitasnya meningkatkan, memang Sang Tokoh sudah sibuk.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB
X