Tetiba Sang Tokoh bangkit dan menghampiri calon ketua di kelompok calon kedua. “Izin, bisa saya bicara khusus berdua?” katanya seraya mengapit lengan calon kedua ke sebuah pojok di masjid itu.
Para kelompok pendukung calon kedua terkejut, namun belum sempat memberikan reaksi, jagoannya sudah dibawa pergi Sang Tokoh.
“Sudah Bapak mundur saja!” tegas Sang Tokoh kepada calon ketua itu, begitu mereka duduk berdua.
Tentu si calon ketua terkejut. Sesaat mulutnya bungkam tak dapat bicara. Baru setelah sesaat dapat menguasasi diri lagi dia bereaksi. “Hah! Kok begitu? Apa alasannya!” tanyanya kesal dengan suara tinggi. Marah.
Sang Tokoh tetap tenang. “Begini. Nanti tiga bulan lagi, Bapak juga yang mengambil jabatan itu kok,” kata Sang Tokoh.
Si calon tambah terkejut. ”Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin?” cecarnya.
“Tiga bulan lagi dia akan wafat,” ungkap Sang Tokoh, seraya terkejut sendiri, dan segera memberi penjelasan tambahan. "Maaf, maksudnya tiga bulan lagi ada jalan bagi Bapak jadi ketua.”
“Caranya?”
“Saya yang jamin!” Sang Tokoh memberikan penegasan.
Calon ketua itu mulai melunak. Dia mulai berpikir memenuhi saran Sang Tokoh.
“Udah, percaya aja deh sama saya! Ayo, sekarang kita kembali berkumpul dengan yang lain."
Belum sempat kelompok calon kedua ini meminta keterangan panjang lebar bagaimana hasil, pembicaraaan antara Sang Tokoh dan wakil mereka, rapat musyawarah sudah dimulai lagi, sehingga mereka tak dapat bicara sendiri serta harus fokus ke musyawarah.
“Baik skorsing saya cabut. Musyawarah saya buka kembali,” kata ketua sidang. “Semoga telah ada hasil atau mufakat terbaik. Jadi, kita tidak perlu bertele-tele lagi.”
Semua jemaah peserta sidang menyimak dengan seksama.
“Baik, bagaimana para calon sudah ada keputusan yang baik?” tanya pimpinan sidang lagi. Tak ada yang menyahut.