“Menurut pendapat pribadi saya, pertandingan Belanda lawan Argentina ini bakal seru. Melihat kehebatan kedua kesebelasan akan banjir gol. Saling susul.mencerak gol Tapi akhirnya Argentina menang 4-3. Hahahaa…..”
Suara rekaman Sang Tokoh langsung disiarkan. Banyak tanggapan dan komentar dari pendengar lainnya. Ada yang menyebut skor prediksi Sang Tokoh kebesaran. Siapa yang menang dan kalah pun tak luput dari analisis warga yang seakan-akan sudah menjadi ahli sepak bola.
Sang Tokoh sendiri melupakan “prediksinya.” Dia cukup menganggap hal itu sekadar ikut meramaikan. Dia segera melupakan wawancara tebak-tebakan itu.
Di luar dugaan, wawancara itu berdampak panjang. Malamnya reporter yang mewawancarai Sang Tokoh menelepon.
”Ternyata dari semua yang membuat prediksi, cuma prediksi Anda, yang akurat dan tepat!” reporternya mengabarkan.
"Hahaha…..terima kasih,” jawab Sang Tokoh.
“Ada hadiahnya lho!”
“Apa?”
“Voucher makan dan nonton gratis berdua.”
“Wah, terima kasih.”
“Tapi setelah ini, Anda diminta direksi kami menjadi komentator bola untuk kami. Gimana?”
“Sebuah kehormatan buat saya. Nanti saya pikirkan lagi ya”
“Oke”
Setelah itu, kejutannya, tak hanya stasion radio yang mewawancarainya yang memintanya jadi komentator. Beberapa stasion televisi juga meminta tampil menjadi komentator lengkap dengan draf kontraknya setahun. Semua masih dipertimbangkan Sang Tokoh.
Itu kejutan pertama. Kejutan kedua lebih besar lagi. Saat Sang Tokoh sedang mau makan malam bersama keluarga, ketika telepon genggam tanganya berbunyi. Dari calon ketua DKM yang tidak jadi ketua. Segera teleponnya diterima.