Oleh: Wina Armada Sukardi
SEPULANG Sang Tokoh ke rumah dari rumah sakit, di depan rumahnya penuh orang. Ada keluarga dan kerabat. Sebagian lagi tetangganya, sebagian wartawan dan orang lain yang tak dikenalnya. Rupanya berita kejadian yang dialami Sang Tokoh sudah menyebar ke mana-mana, sehingga membetot banyak perhatian.
Itulah sebabnya manakala Sang Tokoh pulang, mereka membanjiri rumah Sang Tokoh. Masyarakat banyak yang ingin melihat dan bertemu langsung dengan Sang Tokoh. Mereka penasaran ingin mengetahui seperti apa gerangan Sang Tokoh saat pulang dari rumah sakit.
Meski sempat terkejut sejenak, Sang Tokoh tetap tersenyum. Dia dengan sabar melayani semua yang ingin bersalaman atau foto bersamanya. Beberapa wartawan meminta jadwal untuk mewawancarainya, Sang Tokoh juga mau mengatur jadwalnya.
Setelah para pengunjung pergi, barulah Sang Tokoh dapat masuk rumah dengan leluasa. Kini ingatan memang jauh lebih tajam dibanding sebelum kejadian dia seperti “mati suri.” Dia dapat mengingat dengan jelas sudut-sudut rumah secara detail. Ketika melihat perpustakaan kecilnya, dia langsung hafal di mana letak-letak bukunya.
Sang tokoh mengambil tiga buah buku secara acak yang bahasanya berlainan: agama, politik, dan seni budaya. Ketika membuka-buka buku itu, dia melihat bagian yang digarisbawahi atau dicoret-coret, Sang Tokoh takjub sendiri.
Berbeda dengan sebelum kejadian dia ditabrak, Sang Tokoh sulit sekali menghafal inti dari buku itu, kini bukan hanya bagian yang digarisbawahi, tetapi juga seluruh isi buku yang pernah dia baca itu, mampu diingatnya dengan tepat. Ada kekuatan baru yang luar biasa yang membuat Sang Tokoh dapat mengingat semua buku yang dibacanya. Juga semua yang dia pelajari secara langsung, atau tidak langsung.
Kekuatan yang dia sendiri tidak mengetahui bagaimana prosesnya, apakah ada peningkatan IQ yang begitu mendadak lantaran struktur otaknya berubah, dia tak faham. Cuma Sang Tokoh mafum, daya ingat itu diperolehnya setelah dia tak sadarkan diri sekitar sebulan.
Sang Tokoh menyakinkan, semua itu pastilah pemberian dari Sang Pencipta. dari Tuhan. Dari Allah. Di sinilah Sang Tokoh bertambah percaya, tak ada yang tidak mungkin bagi Alllah. Dari sini pula Sang Tokoh punya persepsi baru terhadap berbagai kejadian. Jika Alllah menghendaki, pasti terjadi.
Akal adalah sesuatu yang teramat sangat penting. Akal menciptakan peradaban dan kebudayaan. Manusia harus memperdayakan dan menghormati akal. Tanpa pemanfataan akal secara maksimal, tak mungkin ada perubahan.
Akal adalah anugerah dari Allah. Manusia yang tidak menghormati akal, sama dengan manusia yang tidak menghormati Pencipta akal itu sendiri. Dengan kata lain, menempatkan akal sebagai sesuatu yang penting, sama dengan memberikan penghormatan yang luhur terhadap Penciptanya.
Demikian pula pemanfaatan akal yang maksimal merupakan rasa bersyukur terhadap Pencipta akal. Konsukuensinya, manusia diwajibkan semaksimal mungkin memanfaatkan potensi akalnya.
Dan itu artinya manusia harus berpikir. Manusia yang malas berpikir ialah manusia yang kufur nikmat. Manusia yang tidak tahu berterima kasih telah diberikan potensi akal untuk berpikir tetapi tidak dimanfaatkannya.
Kemalasan berpikir adalah pengingkaran terhadap potensi kehebatan yang telah diberikan oleh Sang Kuasa. Tentu saja pemakaian akal sepanjang batas kemampuannya. Tidak mungkin melebihi dari kemampuannya. Sebaliknya, banyak yang justru tidak memakai akal sesuai dengan kapasistas yang dimilikinya. Itu yang mesti dihindari.