Sebelum masuk, petugas meminta agar telepon genggam Sang Tokoh dititipkan di bagian penerima tamu. Pada momen ini, sudah terjadi silang sengketa. Rupanya, Sang Tokoh agak protes mengapa tidak boleh membawa telepon genggam.
"Alasanya apa saya tidak boleh membawa telepon saya?"
"Ini sudah sesuai SOP di KPK," jelas petugas.
"Maksud saya, apa lasan peraturan itu? Saya kan bukan tersangka. Saya kan Saksi. Kalau saksi kan sifatnya membantu. Kenapa HP-nya harus ditahan segala?" protes Sang Tokoh.
"Di sini seteril. Tidak boleh difoto, direkam, dan divideo ya. Jadi HP harus ditahan. Dititipkan dulu.”
"Harusnya dibedakan dong antara status yang datang. Kalau sudah tersangka, agak wajarlah nggak boleh bawa HP. Sebaliknya, kalau cuma saksi, hak-hak dasarnya harus tetap dipenuhi. HP itu sekarang sudah jadi bagian aset dan rahasia data pribadi. Tidak boleh sembarangan diambil atau ditahan kalau belum jelas kasusnya."
"Sudah sejak awal itu SOP di sini,” bantah petugas.
"Begini. Kakau KPK mau supaya tidak ada manipulasi, KPK sendiri harus juga terbuka. KPK harus berani transparan. Kenapa takut kalau HP orang dibawa masuk, apalagi status yang datang saksi. Emang ada apa di dalam KPK sampai sedemikian seram dirahasiakan? KPK lembaga hukum, bukan instalasi militer yang perlu dirahasiakan. Bagaimana kalau di dalam ada kezholiman, siapa yang tahu? Jangan mentang-mentang berkuasa, lantas jadi sewenang-wenang!”
"Kalau Saudara tidak berkenan, nanti silakan ajukan keberatan waktu sedang diproses," tegas petugas tersebut agak kesal.
Sepengetahuannya, baru kali inilah ada yang datang ke KPK berani protes soal penitipan telepon genggam. Tamu lain, tidak ada yang protes. Mereka malah sudah ketakutan lebih dahulu.
Sang Tokoh masih mau berdebat, tapi karena hasilnya pasti percuma, dia tidak melanjutkan keberatannya. Dia terpaksa engikuti saja SOP yang ada.
Sepanjang ingatan Sang Tokoh, berikut ini suasana dan isi tanya jawab dalam pemeriksaan dirinya dengan pihak penyidik.
Sang Tokoh melihat sendiri dalam tingkah laku, para penyidik KPK bersifat sopan. Ramah. Namun dalam hal substansi, mereka tegas dan tanpa kompromi.
“Saudara dalam keadaan sehat?” tanya penyidik.
“Ya sehat jasmani rohani. Siap lahir batin menjalankan pemeriksaan,” jawab Sang Tokoh.