Setelah itu dokter paling senior pergi diikuti dengan dokter lainnya. Beberapa suster masih ada di seputar tempat tidur.
Setelah pemeriksaan atas dirinya, Sang Tokoh baru menyadari keluargnya lengkap berada di sampingnya. Ibunya bersama dua kakak adik lelakinya berada di sebelah kiri. Sedangkan Ayahnya berdiri bersama adik perempuanya. Sedari tadi rupanya mereka hanya memperhatikan Sang Tokoh saja.
Begitu para dokter pergi, barulah mereka bereaksi. Mula-mula ibunya membelai kepala Sang Tokoh, kemudian mencium pipinya. Ibunya duduk di bibir tempat tidur. Ada air mata menetes dari kelopak mata ibunya.
Setelah itu, kakak adik laki-lakinya sama-sama tersenyum dan memegang tangan sang tokoh.
Pada saat bersamaan adik perempuannya memeluk Sang Tokoh. Sementara ayahnya cuma memperhatikan dengan sesksama dengan suka cita. Cuma bibirnya merekah menunjukkan rasa bahagia.
Sang Tokoh belum dapat berbicara sama sekali. Dia masih agak bingung terhadap transisi kejadian yang dihadapinya pada dirinya. Peristiwa yang silih berganti dengan cepat.
“Kamu baik-baik saja kan, Nak,” ibunya bertanya.
“Memang ke kenapa?” tanyanya balik. Dia heran. Dirinya tak merasa terjadi apa-apa. Semuanya seakan tak ada yang aneh.
Keluarga Sang Tokoh saling berpandangan, namun sesaat kemudian lantas tersenyum.
Mereka mahfum rupanya Sang Tokoh belum faham apa yang terjadi pada dirinya. Dia belum mengetahui dirinya sudah tidak sadarkan diri total selama 30 hari. Tak memberikan reaksi apapun terhadap apapun yang terjadi di sekitarnnya.
Matanya tertutup rapat. Jika dokter membukanya paksa, tak ada tatapan sama sekali. Kosong. Makannya sepenuhnya melalui infus. Tapi, jantungnya masih terdeteksi berdenyut normal. Para dokter pun dibuatnya bingung. Disebut hidup sudah seperti orang wafat, kecuali jantungnya masih berdenyut seperti biasa.
Begitu juga otaknya, masih bekerja. Oleh sebab itu, dibilang wafat juga tidak mungkin, lantaran masih ada kehidupan dalam diri Sang Tokoh. Dan, itu terjadi setiap hari sejak dia tertabrak mobil. Selama 30 hari terus menerus tanpa henti.
Keluarga, kawan, tetangga, dan handai taulan awalnya berdatangan membesuk silih berganti. Itu berlangaung sampai minggu kedua saja. Setelah itu hanya keluarga inti saja yang terus menungguinya.
Kasus Sang Tokoh telah menarik perhatian beberapa dokter dari luar dan dalam negeri.
Setelah dua minggu Sang Tokoh tak siuman juga, beberapa dokter luar negeri datang. Mereka ingin mengetahui langsung keadaan Sang Tokoh. Mereka ikut memeriksa diri Sang Tokoh yang tak sasarkan diri. Mereka juga meneliti hasil-hasil laboratorium dan mesin-mesin alat kesehatan.