Oleh: Wina Armada Sukardi
DORONGAN dari dalam diri sendiri, menstimulir Sang Tokoh untuk membuka matanya. Perlahan-lahan dia membuka kelopak matanya. Mula-mulai sedikit, lantas sedikit demi sedikit, sampai akhirnya mata Sang Tokoh terbuka seluruhnya.
Dia memperhatikan keadaan sekeliling. Sang Tokoh mendapati dirinya sedang berbaring di tempat tidur. Di sebelanh tanganya ada jarum infus.
Matanya mengikuti selangnya yang bermuara di botol yang tertempel di atas.
Di dadanya terpasang alat-alat pemindai dan pemantau yang hasilnya direfleksikan ke layar monitor di atas kepala agak ke belakang. Semua aktivitas penting organ tubuhnya, terekam di sana.
Di sekelilingnya tembok putih dengan sekat-sekat gorden warna puti pula. Sadarlah Sang Tokoh, dia sedang berada di sebuah rumah sakit.
Manakala jiwa kembara rupanya jasadnya sedang “tertidur” di rumah sakit.
Baru saja kesadarannya pulih, dia mendengar suara,”Matanya terbuka! Suster, matanya terbuka!”
Belum sempat Sang Tokoh memperhatikan dengan seksama, orang yang berbicara, sudah datang berlari-lari beberapa suster ke arahnya!
“Grafiknya sudah normal. Berarti jantungnya udah baik,” kata salah seorang suster. “Segera panggil dokter!”
Hanya beberapa menit, langsung ada empat dokter datang menghampiri Sang Tokoh. Mereka langsung meneliti kondisi Sang Tokoh. Denyut nadi diperiksa. Tekanan darah dicek. Mata, mulut, kuping, semuanya, satu persatu tak luput dari pemeriksaan. Teleskop ditempelkan di dada, dan lainnya. Hasilnya?
“Semuanya oke,” kata salah seorang dokter dari mereka yang kelihatannya paling senior, seraya memeriksa pula layar monitor dan alat-alat yang ada.
“Periksa darah lengkap ke lab secepatnya, dan besok MRI. Semuanya. Jangan ada yang terlewat,” tambahnya. Dokter lain dan para suster mengangguk-anggukan kepala.
Sang Tokoh memperhatikan para dokter. Dia terkejut, kini memiliki kemampuan untuk membaca profil orang. Dia melihat tiga orang dokter ikhlas mengabdi kepada profesinya, tetapi seorang dokter dengan jelas terlihat oleh Sang Tokoh sangat ambisius, meski dia selalu tersenyum. Sang Tokoh sendiri tak faham, bagaimana prosesnya dia dapat memiliki kemampuan semacam ini.