Amplop dan THR Wartawan, Catatan Novrizon Burman

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Sabtu, 30 April 2022 | 10:46 WIB
Novrizon Burman, Pemimpin Redaksi Riausatu.com.
Novrizon Burman, Pemimpin Redaksi Riausatu.com.

Dialog itu terhenti sampai di sana, setelah si kawan ngacir tanpa pamit.
                                  
**

Ombak sadar takdirnya adalah sebagai wartawan, atau lebih luas lagi sebagai penulis. Ini didasarkan bakat menulis yang telah ia miliki sejak kecil. Kendati di tingkat menengah atas ia menempuh pendidikan formal di bidang teknik sipil, tapi saat itu ia lebih intens menulis daripada mendalami rumus-rumus di ilmu teknik sipil.

Ketika bekerja di sebuah perusahaan media di Provinsi Sumatera Barat yang cukup besar, dan gajinya relatif masih cukup untuk menghidupi keluarganya (saat itu masih keluarga kecil), Ombak enjoy-enjoy saja menjalani profesi itu. Ia melakoni hidup dan kehidupan sama dengan para penyandang profesi lainnya.

Kalau pun ada perbuatan Ombak yang sedikit "menyimpang" kala itu, tidaklah tergolong parah-parah amat. Yaitu, ikut berburu undangan kegiatan yang dilakukan organisasi dan lembaga tertentu, termasuk jumpa pers, yang mana semua wartawan yang datang disangoni. "Yang kita terima dari organisasi atau lembaga itu 'kan jasa publikasi," dalih Ombak.

Tapi, ketika perusahaan media –terutama dari jenis online—, tempat ia bekerja nyaris tidak mampu menggajinya secara layak, sementara di bagian lain kebutuhan keluarga kian meningkat menyusul setelah sejumlah anak duduk di bangku sekolah menengah; Ombak punya cara tersendiri untuk keluar dari persoalan: memboyong semua anggota keluarganya dari Pekanbaru, Riau, untuk menetap di kampung.

Karena sudah didukung teknologi yang makin canggih, Ombak sudah bisa dari kampung melakoni pekerjaan sebagai wartawan, baik melakukan editing berita, mewawancarai narasumber, maupun koordinasi dengan atasan dan jajarannya. Termasuk menerima order menulis, dalam wujud dan bentuk apa pun, sudah sangat gampang dilakukan dari kampung.

Di luar kesibukan tulis-menulis, Ombak menjalani profesi sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh masyarakat kampung, yaitu sebagai petani.

Pagi, begitu bangun tidur,  ia ke kebun karet untuk menderes. Pulang dari sana menggarap sawah. Pada waktu-waktu yang telah dijadwalkan, Ombak berkutat di depan laptop, manjalani profesi kewartawanannya. Kadang mengerjakan order penulisan buku. Di lain waktu membersihkan kolam ikan, menyiangi areal perkebunan cabe, atau mengasih pakan ayam-ayamnya yang dibuatkan kandang di belakang rumah

Bila memungkinkan, Ombak pergi ke kota kabupaten, yang berjarak puluhan kilometer dari rumahnya. Ketemu dan berkumpul bersama rekan-rekan seprofesi, membicarakan banyak hal, terkadang hanya untuk sekadar berkelakar dan temu kangen saja.

Bulan berganti tahun, dan seterusnya, dan bersamaan dengan itu satu per satu usaha Ombak di bidang pertanian sudah mulai menghasilkan. Bahkan, sudah ada di antaranya yang menjadi sumber ekonomi keluarga yang bisa diandalkan.

Ombak mengaku capek –bahkan sangat capek— secara fisik, karena seumur-umur belum pernah "membalik bumi' untuk menyiapkan lahan pertanian yang akan ditanami komoditas tertentu.

Tapi, rasa capek itu hilang manakala pada waktu bersamaan Ombak masih menjalani profesi yang sesuai bakat dan tuntutan hati nuraninya. Dan hebatnya, terjauh dari praktek-praktek yang melanggar etika profesi dan bertentangan dengan hati Nuraini, eh, maksudnya: nurani.

**

Evi Endri alias Ombak, ialah wartawan media situs berita (siber) Riausatu.com, milik saya. Sejatinya, Ombak adalah panggilan akrab untuk pria di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumbar. Nama Ombak pun melekat padanya.

Ongkos Mambuek Berita Acok Kurang (Bahasa Minang yang berarti: ongkos membuat berita sering kurang)– demikian Evi Endri menjelaskan singkatan nama akrabnya—, sudah ikut saya sejak saya mendirikan Harian Rakyat Riau pada 2004. Pun waktu saya meninggalkan Rakyat Riau dan mendirikan Tabloid Riau Satu, Ombak ikut saya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB
X