Amplop dan THR Wartawan, Catatan Novrizon Burman

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Sabtu, 30 April 2022 | 10:46 WIB
Novrizon Burman, Pemimpin Redaksi Riausatu.com.
Novrizon Burman, Pemimpin Redaksi Riausatu.com.

"PADEK (mantap) kini, yo?" kata seseorang pada Evi Endri, di suatu siang. Saat itu, terpaut kurang dari sepekan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hari di mana hampir semua orang saling berlomba memperlihatkan kelebihan finansialnya.

Yang dimaksud orang itu, yang tidak lain adalah teman Evi Endri sesama main domino di kedai kampung tempat mereka bermukim, adalah untuk menggambarkan kondisi keuangan keluarga Evi Endri yang dibayangkan agak berlebih dibandingkan dengan hari-hari biasa.

"Ah, biasa saja," kata Evi Endri –yang akrab dipanggil Ombak itu –, mencoba mengelak.

Lalu, seperti kelepasan omong, orang itu menyebut sejumlah nama, kemudian mengatakan: "Apa mereka sudah transfer?" Jelas yang dimaksud adalah apakah sejumlah nama itu sudah mengirim uang atau barang, membantu Ombak dan keluarganya menghadapi Hari Raya Idul Fitri?

Bagi Ombak, pertanyaan itu memiliki makna ganda. Anehnya, pertanyaan serupa sering ia terima, terutama bila menghadapi kondisi-kondisi tertentu. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, misalnya. Atau sebelum atau setelah isterinya melahirkan, atau pada saat ada di antara  anggota keluarganya yang ditimpa sakit.

Makna pertama, menurut Ombak, mengandung muatan rasa bangga karena ia punya relasi dengan orang-orang hebat, yaitu para pemangku kepentingan, di tengah komunitas masyarakat kampung yang kenal dekat dengan pejabat sekelas camat saja sudah demikian membanggakan. Sementara yang disebut orang tadi adalah, sejumlah nama yang beredar di tingkat pusat, setidaknya tingkat provinsi.

Muatan kedua, bagi Ombak, tidak lebih dari penghinaan. Yaitu, ia dinilai sebagai kepala keluarga yang kurang baik karena menghidupi keluarga, termasuk dalam menghadapi hari besar seperti Idul Fitri, dengan mengandalkan pemberian dari orang-orang –utamanya kalangan pejabat dan pengusaha—terkait dengan profesi jurnalis yang disandangnya.

"Kamu lihat saja, apa yang berlebih dari keluarga saya menjelang Lebaran ini?" tanya Ombak sejurus kemudian.

Tidak mau kalah, orang itu kemudian berucap: "Karena kamu tak mau menampakkan saja."

Sekeras apa pun membela diri, Ombak berkeyakinan kalau dialog itu dilanjutkan, ia akan tetap menerima kalimat- kalimat yang memojokkan, yang menempatkan dirinya sebagai penerima pemberian dari kalangan-kakangan tertentu terkait dengan profesi yang disandangnya.

"Terserah kaulah!" ujar Ombak. Ombak memilih melaksanakan dengan bersungguh-sungguh apa yang ia anggap benar daripada menggembar-gemborkan sebuah sikap baik ke banyak orang, yang belum tentu akan didengarkan –apalagi dipahami—oleh orang yang mendengarkan.

Terlebih, pandangan miring terhadap penyandang sejumlah profesi –termasuk wartawan—sudah lama tertanam di benak masyarakat, termasuk yang bermukim di perkampungan sekali pun.

Bagi Ombak, imbauan Dewan Pers Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah terkait permintaan THR (tunjangan hari raya), barang dan sumbangan dalam bentuk apa pun yang diajukan organisasi kewartawanan –termasuk secara personal–, perusahaan pers maupun organisasi kewartawanan, sesuatu yang tidak pernah lagi ia masukkan ke dalam salah satu sumber penghasilannya.

Ia sudah sejak lama mentabukan hal itu. Kendati jujur diakui, ia sempat terseret, walau belum terlalu jauh.

"Apa yang terjadi di keluargaku, akulah yang paling tahu," kata Ombak ke kawannya, dengan nada yang mulai kurang mengenakkan. "Tidak kau, dan tidak sesiapa pun."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB
X