Sang Tokoh memperhatikan sekeliling. Dia terkejut. Di seluruh sisi arena dipenuhi penonton. Hanya saja para penontonya kelihatan aneh. Wajah-wajah mereka tidak seperti manusia biasa. Sebagian wajahnya cuma nampak samar-samar. Matanya dingin tak berkedip.
Sang Tokoh tidak dapat memastikan apakah kaki-kaki penonton ini menyentuh dasar atau tidak.
Ronde pertama dimulai.
Lawan tiba-tiba mengeluarkan tali temali yang bercabang-cabang. Tali itu diputar-putar keras ke arah Sang Tokoh. Setiap putaran menimbulkan angin putar sangat keras ke arah Sang Tokoh. Hembusannya luar biasa kencang.
Jika terkena, Sang Tokoh pasti bakal terpental berputar-putar dan dapat merusak organ dalam tubuhnya.
Menghindari efek negatif, Sang Tokoh awalnya memutar-mutarkan tubuhnya dengan arah yang berlainan dengan arah angin dari lawan, sehingga angin berhenti dan berpitar ke samping dan meluncur ke luar.
Setelah itu giliran tangan Sang Tokoh yang berputar-putar lalu dibuat ke arah lawan. Angin pun berbalik arah menuju lawan membuat lawan harus menghentikannya angin balasan. Caranya putaran tali-temali diperlambat.
Tiba-tiba, tali-tali berubah menjadi rantai-rantai besar seperti sering dipakai di pelabuhan untuk menahan kapal. Rantai-rantai ini dapat melar mencapai Sang Tokoh.
“Sabetan” itu jelas dapat melukai tubuh Sang Tokoh. Menghadapi ini Sang Tokoh berkonsentrasi dan membentuk benteng aura yang tak dapat ditembus rantai. Terjadilah benturan-benturan rantai dengan semacam tameng besi.
Benturannya menimbulkan suara keras. Berkali-kali gagal, lawan mengubah strategi lagi.
Tiba-tiba rantai-rantai itu berubah menjadi puluhan ular kobra. Kumpulan ular itu berdesis-desis menuju Sang Tokoh. Sekali kena patokan dari seekor ular ini saja, mungkin Sang Tokoh dapat kena racun berbisa dan beberapa saat kemudian dapat tewas.
Sang Tokoh waspada penuh. Dia mengatur dirinya untuk dapat berbicara hanya dengan hewan ular.
“Hai para ular, kalian dari mana?” sapa Sang Tokoh.
“Hai….hai…..hai.. kami….” beberapa ular kobra menjawab tidak tuntas. Sebelum melanjut menjawab, suara mereka sudah hilang. Sementara mereka terus maju ke arah Sang Tokoh.
Dalam sekejap Sang Tokoh faham, ini adalah tipuan. Ular-ular itu hanya fisiknya saja, tetapi yang bergerak adalah kekuatan sihir.