Lantas tetiba ada beberapa orang yang mencoba menyembah, dan bahkan bersujud kepada Sang Tokoh.
Ini sudah tidak benar, pikir Sang Tokoh. Sudah menyimpang. Sudah keterlaluan. sudah cenderung kufur.
Sang Tokoh seketika meminta orang-orang yang ingin menyembahnya bangkit lagi. Bagaimana ini, tak mungkin mengusir mereka, kata kata Sang Tokoh, dalam hati.
Berabe. Mereka dapat terus bertahan dan bahkan lebih banyak lagi yang bakal datang. Harus ada ada cara yang tepat mengatasinya. Sang Tokoh cepat berpikir mencari jalan itu.
“Baiklah Bapak-bapak dan ibu-ini seperjuangan,” sengaja Sang Tokoh memakai kata “seperjuangan” agar mereka percaya kepadanya.
“Kapan-kapan, kalau ada waktu yang pas, saya mau cerita mengenai pertemuan dengan Ratu Pantai Selatan yang banyak dihormati di sini,” kata Sang Tokoh, kemudian diikuti pernyataan untuk melepaskan diri dari mereka.
”Cuma hari ini saya masih sangat lelah. Tahu sendiri kan bertemu dengan Nyi Roro Kidul makan banyak energi. Jadi saya mohon kepada Bapak-bapak, ibu-ibu sekarang untuk sudilah kiranya meninggalkan saya. Saya mau istirahat. Mau memulihkan batin. Dengan hormat ayo tinggalkan saya dulu ya. Terima kasih.“
Kerumunan itupun pergi tanpa keluh kesah. Sang Tokoh menarik nafas lega dan masuk lagi ke kamar. Meskipun demikian, rencananya untuk hiling, mencari dan mendapat ketenangan di Pelabuhan Ratu, menjadi buyar.
Para pemburu dan pengagum Nyi Roro Kidul bakal terus mendatanginya dengan berbagai pertanyaan. Makin lama akan makin banyak yang akan datang. Tak mungkin lagi Sang Tokoh istirahat.
Berundinglah Sang Tokoh dengan keluarganya, bagaimana mengatasi gangguan ini. Keputusannya: semua keluarga segera check out meninggalkan hotel. Pindah ke Bali.
Hari itu juga mereka berangkat ke Bali. Mereka bakal liburan dan menginap di Bali sisa hari dari rencana liburan di Pelabuhan Ratu, sekitar tiga atau empat hari. Jika diperlukan dapat ditambah.
Dari Pelabuhan Ratu mereka langsung berangkat Soekarno Hatta. Tiket sebelumnya sudah dipesan secara online. Zaman digital semua sudah dapat diatur memakai teknologi. Semuanya menjadi serba praktis. Mobil yang dipakai dititipkan di area penginapan mobil.
Keluarga Sang Tokoh harus menunggu jadwal penerbangan sekitar tiga jam. Itu sudah penerbangan yang paling terdekat.
Perjalanan Pelabuhan Ratu ke Bandara Udara Soekarno-Hatta Cengkareng sekitar tiga jam. Mereka berangkat sudah agak siang. Dapatlah pesawat ke Bali agak sorean.
Selama menanti di Bandara Soekarno-Hatta mereka hanya makan dan kemudian duduk di ruang tunggu.