“Tapi Bapak dapat selamat. Bapak berhasil menghindar dari pesonanya. Kalau tidak, mungkin minggu depan jenazah Bapak baru ditemukan. Hanya orang hebat dan khusus saja yang dapat terhindar seperti itu. Sekali lagi, saya tak kenal Bapak, tapi melihat Bapak masih kuat menghadapi kejelitaan dan daya tarik Nyi Roro Kidul, itu luar biasa.”
Sang Tokoh cuma mangut-mangut.
“Segitu saja,” kata lelaki tersebut. Dia kemudian berjalan keluar restoran menuju keluar gedung hotel ke arah pantai. Setelah dia berjalan ke arah pantai, tak ada yang melihatnya lagi.
Sang Tokoh sendiri juga bangkit dari duduknya menuju ke kamarnya. Semua yang hadir di restoran memandangi kepergiannya menuju kamarnya.
Tak lama setelah sampai ke dalam kamarnya, Sang Tokoh mendengar suara ramai di depan kamarnya. Mula-mula dia diamkan saja, namun makin lama terdengar makin gaduh. Dia pun mengintip dari kaca pengintip di pintu. Rupanya di depan kamarnya sudah berkumpul banyak orang. Ada apa gerangan?
Dia pun membuka pintu kamar dan keluar. Begitu Sang Tokoh muncul dari pintu kamar, langsung diserbu orang-orang bekerumun di depan kamarnya. Sang Tokoh rupanya memang sudah ditungggu, padahal tak ada satupun yang sebelumnya mengetahui di kamar berapa dia tinggal. Tak ada satu orang berkerumun itu yang dikenal Sang Tokoh.
Ternyata masih urusan Nyo Roro Kidul. Kabar Sang Tokoh berjumpa dengan Ratu Pantai Selatan menyebar secepat kilat ke mana-mana. Mau tidak mau Sang Tokoh menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang ada di depan kamarnya ingin mengetahui lebih lanjut seluk-beluk kisah Sang Tokoh bertemu dengan legenda di pantai Selatan.
Rupanya waktu Sang Tokoh meningalkan restoran tempat sarapan, ada yang mengikutinya sehingga mereka mengetahui nomor kamarnya.
“Saya ini sudah hampir lima tahun setiap malam jumat bersemedi di kamar Nyi Roro Kidul di hotel ini. Bapak kan tahu Nyi Roro Kidul sejak dulu di hotel ini disediakan kamar. Saya sudah hampir lima tahun hadir di kamar itu. Tapi usaha untuk dapat berjumpa atau melihat Nyi Roro Kidul selalu tidak berhasil. Gagal total. Bapak kok saya dengar langsung dapat ketemu. Bagaimana caranya bapak dapat berjumpa dengan beliau. Tolonglah diceritakan kepada kami,” ujar seorang lelaki berjenggot, brewokan, dan berkumis tebal yang semuanya sudah memutih.
“Ah, cuma kebetulan saja barangkali,” elak Sang Tokoh.
“Tidak mungkinlah,” kata lelaki tadi. ”Kalau begitu, beritahu kami syarat-syaratnya apa saja?”
“Gak ada syarat-syaratnya. Malah nggak ada persiapan apa-apa. Ya untung-untungan ketemu begitu saja.”
“Perlu puasa lebih dahulukah?” tanya lelaki lain berpakian hitam-hitam.
“Wah saya tidak tahu, tapi saya sih tidak.”
Kalaui begitu, jangan-jangan Bapak ini titisan atau keluarga dari Nyi Roro Kidul sendiri. Benar kan Pak?” kata seorang anak muda.