“Deal!” kata advokat teman SMP-SMA Sang tokoh.
“Tidak setuju!” sergah Sang Tokoh mengejutkan yang hadir.
“Maunya gimana?” tanya advokat yang tadi.
Sang Tokoh sayup-sayup mendengar sebenarnya teman SMP-SMA mempersoalkan dirinya karena membidik keuntungan komersial, termasuk dari acara semacam ini yang sudah diperhitungkan temannya itu.
“Acara ini kan adu klarifikasi kan. Nah, kalau saya keok, dari 60% itu, yang 55% silakan ambil. Sebaliknya, kalau saya tidak terbukti seperti dituduhkan, maka sayalah yang berhak mendapat 55% itu. Begitu,” jawab Sang Tokoh.
“Kok besar sekali bedanya?”
“Begitulah, pemenang dan pecundang perlu dibedakan dengan tegas.”
Pihak teman SMP-SMA berunding di antara mereka. Rupanya mereka sudah mencapai kesepakatan.
“Kami usul, pemenang dapat 40%, dan yang kalah 20%. Harga mati!”
“Kalau begitu acara ini gak jadi!” Sang Tokoh langsung menegaskan.
“Kenapa?” tanya wakil even organizer yang ikut perundingan.
“Ini bukan soal pembagian keuntungan. Ini soal pembuktian kebenaran. Sudah selayaknya siapapun yang berbohong atau tidak akurat, cuma memperoleh bagian kecil. Ya 5% itulah. Selebihnya, hak yang terbukti benar. Ini prinsip. Bukan pembagian keuntungan!” Sang Tokoh tak mau menyerah.
“Tapi kan perlu ada toleransi dan empati dong.”
“Untuk yang terbukti bersalah, berbohong, sengaja atau tidak sengaja, tak ada toleransi dan tak ada empati,” suara Sang Tokoh tegas.
Para perunding diam. Suasana agak tegang.
“Ini final. Jika tidak sepakat, kita bubar. Acara tida jadi.” Tegas Sang Tokoh.