Oleh: Wina Armada Sukardi
SANG Tokoh tetiba merasa kesakitan. Tubuhnya seperti terkena godam tak terpekirakan. Sakit bukan alang kepalang. Tak pernah dia merasakan hal seperti itu. Kesakitan yang tak mampu lagi diurai dengan kata-kata.
Mau menjerit mulut seperti terkunci. Mau mengeluh pun sudah tidak tahu bagaimana caranya. Sang Tokoh tak berdaya sama sekali.
Manakala Sang Tokoh sudah pasrah. Sudah sumarah. Sudah menerima apa adanya keadaan dirinya, rasa sakitnya malah berangsur menghilang. Perlahan-lahan, sampai lenyap. Entah kenapa. Sampai akhirnya tuntas. Rasa sakit itu sudah tak ada lagi sedikit pun.
Sebaliknya, Sang Tokoh merasa segar. Dirinya tak merasakan apa-apa lagi. Dia seperti sedang mengambang di udara ruang yang tak terbatas. Kala itu tak ada batas antara ruang dan waktu bagi Sang Tokoh. Dirinya merasa ringan. Tak ada beban. Ke mana dia berpikir, di situ dia berada.
Dari kejauhan di alam yang berbeda, Sang Tokoh melihat beberapa orang menggeliat sambil mengerang. Lalu terkulai.
Tak berapa lama kemudian Sang Tokoh melihat orang-orang yang menggerang tersebut muncul di jalan di dekatnya. Mereka melangkah tanpa menoleh. Wajahnya tak berekspresi. Menatap ke depan. Tak jelas tujuannya, lantaran di ujung mereka lantas seperti menghilang. Entah ke mana.
Dan, hari itu, Sang Tokoh melihat seorang temannya nun di tempat tidur di sebelah rumah sakit, tersenyum sendiri. Dia terlihat riang. Lalu seperti juga lain-lainnya yang sudah, temannya itu begitu saja telah muncul di dekatnya. Tapi dia cuma berjalan lurus kaku. Dia tak menenggok sama sekali ke arah Sang Tokoh.
Selain seperti tak kenal, juga seperti tak ada hubungan apa-apa antara Sang Tokoh dan temannya. Ingin rasanya Sang Tokoh memanggil atau menegurnya, tapi sama sekali tak ada suara apapun yang keluar. Dia tak dapat berkomunikasi apapun dengan temannya itu. Si teman berlalu tak ambil peduli kepada Sang Tokoh. Sama pula dengan yang lain, temannya itu menghilang di ujung sana.
Sang Tokoh tak dapat dan tak mampu berpikir apa yang sedang terjadi. Dia hanya merasa peristiwa yang dialaminya tanpa dapat mengetahui bagaimana sejati peristiwa-peristiwa itu dialaminya.
Dalam ketidakjelasan itu, Sang Tokoh seperti merasa ada dua kekuatan yang membimbing, atau mungkin tepatnya memaksanya, mengikuti mereka. Kekuatan yang tidak terlihat namun terasa benar kehadirannya.
Sang Tokoh tak faham apakah dia sudah beranjak jauh, atau masih dekat dari keberadaan awalnya. Demikian pula Sang Tokoh tak mengerti apakah dia masih baru sebentar ataukah sudah lama sejak pergi dari keberadaannya semula. Tak hanya itu, bahkan Sang Tokoh tak dapat lagi membedakan di ruang mana dan waktu kapan dirinya berada.
Sang Tokoh hanya merasa sampai pada suatu keadaan dia seperti sedang berzikir dan dapat melihat serta mendengarkan dirinya sendiri melakukan monolog puitis:
Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah
Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah