Novelet Religi “Sang Tokoh”: [1] Berangkat Salat Subuh

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Selasa, 12 Maret 2024 | 11:54 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Pengemudi mobil, seorang dengan pakian serba hitam, tak begitu jelas lelaki atau wanita, membuka kaca mobilnya. Mungkin lantaran masih ada kabut, wajah tak begitu jelas, tapi nampak aneh. Dari kejauhan agak seram. Rambutnya acak-acakan. Setelah menengok kanan kiri, dan melihat tak ada seorang pun orang, dia tancap gas. Kabur.

Tak ada yang mengetahui Sang Tokoh terkapar di pinggir jalan, lantaran ditabrak. Tubuh Sang Tokoh pun tak bergerak sama sekali.

Barulah setelah salat subuh berjemah di masjid selesai dan bubar, satu dua orang jemaah menemukan Sang Tokoh tergeletak tanpa daya. Dengan cepat kabar itu menyebar ke jemaah lainnya.

Sang Tokoh segera ditolong. Dibawa ke rumah sakit terdekat dengan ambulan milik masjid yang memang sedia setiap saat pengangkut jenazah atau orang sakit parah. Keluarga Sang Tokoh segera diberitahu.

Pagi bersamaan dengan terbitnya mentari masyarakat di sekitar masjid barulah ramai membincangkannya. Mereka berkumpul di sekitar tempat peristiwa. Umumnya mereka mengenal Sang Tokoh.

Berseliweran kabar, spekulasi, dan diskusi bagaimana peristiwa subuh itu terjadi. Ada mengusulkan sebelum pertigaan dibuat “polisi tidur” dan tanda peringatan.

Semenyata tubuh Sang Tokoh sudah ada di ruang gawat darurat rumah sakit atau UGD yang tersedia di setiap rumah sakit. Biasanya terletak di bagian depan rumah sakit.

Jam buka dan operasional UGD 24 jam. Tiap hari. Tiap bulan. Tiap tahun. Tak ada hari libur, walaupun petugasnya bisa saja berkurang.

Sang Tokoh dibawa ke ruangan ini lantaran memang di UGD inilah semua pasien yang masuk diberikan pertolongan pertama.

Tenaga medis yang bertugas di UGD biasanya hanyalah dokter umum, bahkan dokter yang baru lulus. Mereka bakal mengobservasi pasien dan mengambil tindakan darurat, termasuk jika sangat diperlukan melaksanakan operasi.

Beberapa dokter muda memeriksa Sang Tokoh dengan seksama. Para dokter muda yang menangani Sang Tokoh itu, setelah memeriksa, tidak dapat memberi keputusan apapun.

Tubuh Sang Tokoh hanya lecet di sana sini sedikit, tapi Sang Tokoh sendiri sama sekaki tidak sadarkan diri. Nafasnya jelas masih ada, walaupun grafiknya masih turun naik.

Perlu dokter spesialis yang memeriksa dan menentukan apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Sang Tokoh. Itu pun tak cukup satu dokter spisialis. Harus beberapa dokter spesialis.

“Kami belum dapat menyimpulkan apapun,” kata seorang dokter perempuan muda yang keluar dari ruang gawat darurat khusus untuk menjelaskan kepada keluarga Sang Tokoh yang menunggu di luar.

“Kami harus menunggu beberapa dokter spesialis menanganinya!” tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB
X