Novelet Religi “Sang Tokoh”: [1] Berangkat Salat Subuh

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Selasa, 12 Maret 2024 | 11:54 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Baginya salat subuh di masjid adalah sebuah kesempatan yang diberikan oleh Pencipta Langit dan Bumi untuk melapor dan minta petunjuk sebelum memulai kehidupan dan penghidupan.

Bagi Sang Tokoh, salat subuh berjemaah di masjid selain ritual penyerahan diri tunduk dan patuh kepada Allah, juga merupakan sarana mendapatkan kekuatan lahir batin. Itulah sebabnya, Sang Tokoh setiap salat subuh berjemaah di masjid, dia terus bertambah semangat, semangat, dan semangat.

Baginya salat subuh berjemaah di masjid bagaikan lebih dari segalanya. Sungguh dia merasa rugi jika tak salat subuh berjemaah di masjid.

Subuh hari itu pun raut wajah Sang Tokoh, berseri. Wajahnya memantulkan kebahagian. Dari wajahnya terpancar pula ketulusan, kepasrahan sekaligus kepercayaan diri yang tinggi. Wajah seorang umat muslim yang hampir sempurna.

Kendati begitu, tak dapat disembunyikan, wajah Sang Tokoh juga masih menyiratkan keletihan. Maklumlah, tadi malam Sang Tokoh membaca  kembali beberapa buku yang pernah dibacanya. Cuma yang dibaca bagian-bagian buku yang telah diberi garis bawah olehnya.

Memang setiap membaca buku Sang Tokoh memberi garis bawah pada bgian-bagian yang dinilainya penting. Ini untuk memudahkan dirinya mengingat sekaligus mempermudah jika memerlukan kembali sebagai referensi.

Oleh sebab itu, buku-buku yang dibacanya kembali tadi dapat dilakulan dengan cepat. Hanya karena Sang Tokoh membaca beberapa buku sekaligus, akhirnya selesai sampai malam.

Buku-buku yang baru dibacanya diletakan kembali di perpustalaan pribadinya yang tertata rapi. Setiap kumpulan jenis buku diberinya tanda. Ada buku hukum, politik, agama, komunikasi, sastera, budaya, dan sebagainya. Hampir semua ragam buku ada di perpustakaannya.

Semalam, dia hanya membaca ulang beberapa buku saja, tapi memakan banyak waktu malamnya.

Hanya dengan tekad besar dan semangat luar biasa, Sang Tokoh tetap dapat melangkah ke masjid dengan hati riang. Penuh semangat. Penuh Pengharapan. Keimanan yang memenuhi jiwanya, membuat Sang Tokoh tak mengenal arang lintang untuk salat subuh berjemaah di masjid.

Seperti setiap subuh sebelumnya, dia menikmati benar berjalan menuju salat subuh berjemaah di masjid. Masih terlihat membayang kabut tipis putih di jalanan  seputar sana.

Kesegaran dan kesejukan udara membuat Sang Tokoh di subuh itu berjalan dengan nyaman. Dia kelihatan tenang, mensyukuri masih diberi kesempatan salat subuh berjemaah di masjid.

Sesaat setelah melewati pertigaan jalan antara rumahnya dan masjid, Sang Tokoh merasakan desiran angin yang lebih cepat mendekat kepada tubuhnya. Bukan desiran angin biasa.

Rupanya tanpa disadari desiran angin itu datang dari sebuah mobil yang dengan cepat menuju dan langsung menabraknya. Mobil melaju cukup cepat, dan tidak memperhitungkan di subuh itu, setelah pertigaan jalan bakal ada orang yang sedang berjalan kaki.

Walhasil, Sang Tokoh, tanpa bisa dihindari, tertabrak. Terpental ke kiri depan arah mobil. Seketika, Sang Tokoh tak sadarkan diri sama sekali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB
X