Amarah massa pun meledak. Rumah dinas Perdana Menteri KP Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel dibakar.
Keduanya dikabarkan mundur di tengah tekanan.
Kekerasan massa juga menelan korban: istri mantan PM Jhalanath Khanal tewas setelah rumahnya dijarah, sementara Menteri Keuangan diarak telanjang, dan Menteri Luar Negeri dipukuli.
Sejumlah pejabat lain dievakuasi menggunakan helikopter demi menghindari amuk massa.
Hingga kini, sedikitnya 22 orang tewas, dan kendali negara sementara diambil alih oleh militer.
Bagi rakyat Nepal, istilah “nepo kids” bukan sekadar sindiran populer, melainkan cermin ketidakadilan sistemik.
Dinasti politik yang tak kunjung runtuh dianggap sebagai biang stagnasi demokrasi.
Dari jalanan Kathmandu, pesan perlawanan generasi muda Nepal bergema: mereka ingin memutus mata rantai privilese, dan membuka jalan bagi meritokrasi. ***
Novrizon Burman
Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab Riausatu.com