Masih segar dalam ingatan saat Kongres PWI berlangsung di Solo 2018. Di sela-sela istirahat makan siang, Alwi Hamu menghibur seluruh peserta kongres dengan menyanyikan beberapa lagi diiiringi organ tunggal.
Alwi memang pandai menyanyi membawakan lagu-lagu hits dunia, juga lagu-lagu Bugis Makassar. Sekejap saja ruang makan hotel gegap gempita dipenuhi tawa canda.
Acara diakhiri dengan fofo-foto selfie yang dimotori emak-emak. Hari itu Daeng Alwi asli menjadi idola emak-emak.
Di Kongres PWI Solo itu, Alwi bertahan sebagai anggota Dewan Penasihat PWI Pusat.
Menyanyi Bersama
Setelah kondisinya mulai membaik, kami kembali membesuk di rumahnya. Waktu itu dia sudah bisa duduk di kursi, dan senyumnya tak lekang di wajah.
Saya perdengarkan nyanyian dari ponsel dua lagu Makassar, "Anging Ma'miri"dan "Bori Minasa" yang ikut dinyanyikannya dengan semangat. Bismillah. Daeng Alwi sudah sembuh.
Saya mengenal Daeng Alwi jauh sebelum saya jadi wartawan. Puluhan tahun lalu, masih di Makassar.
Sebagai wartawan, ia sebenarnya seangkatan dan bersahabat erat dengan kakak sulung kami, H Zainal Bintang.
Tapi seperti disebut di atas, Daeng Alwi tidak mengenal strata junior maupun senior, semua kawan. Semua sahabat.
Saya ingat, suatu siang, jauh sebelum jatuh sakit, ia mengunjungi saya di kantor. Sekaligus mengundang pindahan rumah barunya di Komplek Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat.
Tidak lama setelah mendapat kabar duka itu bersama Marah Sakti Siregar, Pengurus PWI Pusat, dan anggota Pokja Pendidikan Dewan Pers, kami melayat ke RS Puri Indah.
Di kamar jenazah, lebih dulu tiba Wapres RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla bersama Ibu Mufidah JK, mantan Menkumham Hamid Awaluddin, kemudian menyusul mantan Menkominfo Sofyan Jalil yang merupakan sohib Daeng Alwi.
Semasa JK menjabat Wapres RI dua kali, Daeng Alwi memang menjabat Staf Khususnya.
Daeng Alwi mengawali karir di dunia jurnalistik di usia belia, masih berstatus mahasiswa. Pria kelahiran 28 Juli 1944 itu merupakan lulusan Sarjana Muda Teknik Universitas Hasanuddin.