Kedua, si lawan tidak memgetahui mana monyet asli dan mana yang bukan. Lawan juga pusing mengetahui di mana Sang Tokoh berada di dalam tarian kecak itu.
Ketiga, lawan itu terkejut Sang Tokoh secara mendadak melakukan penyerangan sehingga dia sama sekaki tidak menduga mendapat serangan kilat, dan tidak siap menghadapi serangan itu. Pertahanannya terbuka. Dia lengah.
Akibatnya, Sang Tokoh dengan mudah menghajar lawannya. Beberapa monyet ikut-ikut mencakar, memukul, dan menggigitnya.
Lawan Sang Tokoh terpojok. Sang Tokoh kali ini tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada lawannya. Tanpa ampun, Sang Tokoh bersama-sama dengan beberapa kera membuat lawan hancur luluh lantah
Pada saat tubuh lawannya luluh lantah, tiba-tiba tubuh lawannya itu terbakar menjadi abu, dan kumpulan asapnya berpuyar-putar keluar dan menghilang.
Tarian kecak selesai. Berhenti. Para monyet berlarian masuk lagi ke hutan
“Wahai monyet, terima kasih atas bantuannya,” kata Sang Tokoh. Para monyet membalas dengan suara khas mereka.
Penonton pun sudah menghilang. Sang Tokoh tidak mengetahui bagaimana mereka pergi, sebagaimana Sang Tokoh tidak mengetahui bagaimana mereka datang.
Sesama keluarga Sang Tokoh berpelukan. Bahagia Sang Tokoh selamat. Hanya beberapa bagian tubuhnya memar.
Bersama keluarganya, Sang Tokoh pulang melalui jalan sama. Di tengah jalan kembali rombongan keluarga itu berjumpa lagi dengan Pedande yang waktu datang telah ketemu Mereka saling senyum.
“Hebat!” kata Pendade itu.
“Terima kasih,” jawab Sang Tokoh..
Sebagai ucapan terima kasih, besoknya Sang Tokoh mengirim satu truk penuh buah-buahan kepada para kera.
Kendati setiba di Bali Sang Tokoh mengalami banyak peristiwa aneh, Sang Tokoh bersama keluarga memutuskan tetap melanjutkan liburan di Bali.
Sebuah keputusan yang tepat, lantaran terbukti Sang Tokoh dapat berlibur bersama keluarga selama beberapa hari dengan tenang tanpa hambatan apa-apa. ***