Tiba-tiba Sang Tokoh merasa dadanya terpukul keras dan dia terpental. Rupanya sementara Sang Tokoh menerka-nerka mana yang asli, lawannya sudah memukulnya lebih dahulu.
Sang Tokoh menyadari ini tipuan yang berbahaya. Inilah yang disebut antara ada dan tiada. Sang Tokoh ingat, sesungguhnya yang ada hanyalah Allah. Selebihnya adalah ilusi yang diciptakan untuk mengecoh.
Dengan berkonsentrasi dan memusatkan pikiran hanya ada Allah dan semuanya yang tiada pun ciptaaan Allah juga, Sang Tokoh ingin mendapat gambaran siapa yang nyata di hadapannya dan siapa ilusif.
Tak mungkin meniadakan Allah. Tiada mungkin menyamakan sesuatu dengan Allah. Tak boleh panik. Tak boleh takut. Selalu mengingat Allah.
Perlahan-laha berbagai bayangan menyerupai lawan hilang dan hanya nampak sosok lawan Sang Tokoh. Maka kali ini Sang Tokoh dengan mudah mengelak pukulan lawannya, dan bahkan balik memukul. Giliran lawan Sang Tokoh yang terpental.
Dari arah penonton terdengar lagi gumaman serentak.
Sang Tokoh ingat prinsip penyerangan: seranglah lawan ketika mereka tengah lengah. Setelah lawannya berpikir pihak Sang Tokoh sedang dan akan terus bertahan.
“Sekarang waktunya menyerang,” ujar Sang Tokoh dalam hati. Kemungkinan lawannya akan panik.
Sang Tokoh mempergunakan kelebihannya dapat bicara dengan hewan. Ini kali Sang Tokoh berbicara dengan para kera yang ada di sekitar pengunungan seputar saba.
“Wahai para kera, tolonglah aku. Aku sedang butuh bantuan. Aku sedang diserang. Ayo cepat kita berkumpul. Buat lawan menjadi bingung, mana saya asli dan mana yang bukan. Mana kalian yang asli dan mana yang palsu."
Seketika terdengar sahutan dari hutan pengunungan. Para monyet siap berkumpul, lalu datang ke arena. Sementara menunggu kedatangan para kera, Sang Toloh melayani lawannya dan berhasil dua kali melakukan pukulan yang membuat lawannya terpental.
Monyet-monyet atau kera-kera itu sudah datang. Jumlahnya puluhan.
“Ayo kita bikin tari kecak dan membuat dia bingung,” ujar Sang Tokoh kepada “pasukan monyet” yang baru datang.
Hebatnya dalam sekejap para kera itu sudah melakukan tarian kecak bersama Sang Tokoh. Lawan Sang Tokoh terpana. Pertama, dia tidak menyangka Sang Tokoh bakal dibantu, dalam pandangannya, ribuan kera yang melakukan tari kecak.
Sebuah tarian yang luar biasa. Harmoni. Kompak. Berenergi. Indah.