Hanya dengan melakukan berusaha yang terbaik, kita menghormati Allah. Menggapai yang terbaik adalah wujud kita patuh dan tunduk kepada Allah.
Jangan salah, bukan Allah yang membutuhkan kita, tetapi kita yang membutuhkan Allah….”
Perekam khotbah itu tak menyangka Sang Tokoh dapat khotbah dengan baik. Meski demikian, dia tetap memosting dan meng-upload semuanya ke media sosial. Jika sebelumnya ingin mempermalukan Sang Tokoh, kini dia sekadar iseng belaka. Sudah terlanjur membuat rekaman, dia pun menyebarluaskannya.
Tak disangka dan tak dinyana, postingan ceramah Sang Tokoh dalam sekejap viral. Secara bertahap, tetapi cepat, mencapai jutaan penonton. Rupanya video itu disenangi khalayak. Tak pelak, tak lama kemudian Sang Tokoh mendadak menjadi terkenal, bahkan sangat terkenal.
Sejak itu mulai berdatangan permintaan atau undangan. Mula-mula khusus untuk menjadi khatib. Kemudian berkembang permintaan jadi penceramah, pelatihan, dan motivator.
Penjelasan Sang Tokoh yang jelas, runtut, masuk akal, dan relevan, membuat bahan khotbah atau ceramah dan kajiannya membetot perhatian banyak warga. Namanya semakin populer saja. Semakin banyak saja permintaan menjadi penceramah.
Permintaan wawancara juga terus meningkat, termasuk dari televisi dan radio. Sang Tokoh melayaninya semuanya apa adanya. Tanpa dibuat-buat dan dengan santai. Semua dijawab apa adanya, kecuali kemampuannya berbicara dengan binatang serta ingatan Sang Tokoh yang berubah drastis, tak diungkapkannya.
Teknologi dapat mengubah posisi seseorang sedemikian cepat. Lewat teknologi Sang Tokoh sejak menjadi khatib telah berubah drastis.
Dia menjadi figur terkenal. Menjadi buah bibir masyarakat dinmana-mana. Padahal sebelumnya dia bukan siapapun, meski di sana-sini sudah juga dikenal masyarakat. Dengan teknologi, Sang Tokoh ditempatkan di tangga tinggi popularitas. Kesibukannya juga melonjak sangat luar biasa.
Dalam sejelap penghasilannya juga menggelembung. Uang mengalir bak air ke dalam pundi-pundinya.
Sering kali Sang Tokoh diundang dengan topik tertentu, tetapi dalam praktek acara tanya jawab yang ditanya jauh di luar topik. Sang Tokoh tak pernah menghindar. Dia menjawabnya semampunya.
Misalnya, sebenarnya, pada hari itu Sang Tokoh diundang oleh sebuah perkumpulan untuk bicara soal “Godaan di Perkawinan Zaman Modern,” tapi pada acara tanya jawab ada yang mengajukan pertanyaan yang menyimpang.
“Kenapa agama Islam turun di Arab?nApakah ini ada kaitanya dengan orang Arab pada waktu itu memang sadis, kejam, dan kurang beradab,” tanya seorang pengunjung. Masih muda.
Sang Tokoh dengan jelas melihat, penanya ini bukan ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya, tetapi ingin memencoba, bahkan ingin menjatuhkannya. Namun, Sang Tokoh menanggapinya dengan tetap tersenyum.
Sang Tokoh menjelaskan :