Malik menambahkan, berdasarkan catatan sejarah, pasukan Belanda dan Inggris saja tak berani memasuki wilayah Kesultanan Riau-Lingga. Anak-cucu merekalah sekarang yang mendiami Rempang-Galang secara turun-temurun. "Pada Perang Riau itu, nenek-moyang mereka disebut Pasukan Pertikaman Kesultanan," ujarnya lagi.
Sejarah juga mencatat, Prajurit Pulau Rempang dan Galang ini, tertulis dalam "Tuhfat al-Nafis" karya Raja Ali Haji. Buku ini merupakan buku pintar Melayu yang dimiliki Masyarakat Riau dan Kepri. Oleh karena itu, merupakan hal wajar, bila ada masyarakat Rempang-Galang bersumpah sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan kampungnya, karena mereka adalah keturunan pasukan Sultan Riau-Lingga.
Di sisi lain Budayawan Riau, HA Aris Abeba mengatakan, demo dan protes masyarakat itu, karena secara psikologis mereka benar-benar merasa tertekan. Sebagai orang asli Melayu, mental mereka terbeban dengan pembangunan yang dirancang pemerintah. Satu sisi mereka sangat menjunjung dan bangga dengan adat budaya, tapi sisi lainnya mereka diwajibkan menurut aturan dan kesewenangan yang ditetapkan penguasa.
"Pergolakan batin inilah yang membuat Galang, Rempang, Bulang, dan Melayu lainnya bergolak. Karena mereka hanya meminta sedikit, tapi yang sedikit itupun tidak bisa mereka dapatkan, apalagi dipertahankan," ujar Aris yang menyebut pula nenek moyangnya, berasal dari Daek Lingga, Kepri.
Orang Melayu, sambungnya, orang yang suka menerima, cinta damai, dan tidak akan berak (buang air besar) di dalam celana. Karena celana itu dia bersihkan, dicuci, dan dipakai setiap saat. Dia tidak akan mengotori celananya sendiri dengan najis. Atau sama artinya dengan orang yang membuang tinjanya di meja makan.
Orang Melayu pada dasarnya, tidak akan mempermalukan dirinya, adatnya, kebudayaan, dan bangsanya. Apalagi merusak orang lain. Orang Melayu bisa diajak beriya dan sekata. Ke gunung sama mendaki, ke lurah sama menurun. Menerima titah, daulat tuanku. Asal dia jangan dikhianati dan tahu cara mendekatinya.
"Mungkin, Pemerintah Kepri BP Batam atau Bahlil Lahadalia itu, tak tahu cara-cara orang Melayu," kata Aris sambil tersenyum.
Entahlah! ***
H. Dheni Kurnia
Wartawan, Karateka (Pemegang Sabuk Hitam Dan V), dan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)