Sesekali, di kejauhan, tampak siluet Petronas Twin Towers dan Merdeka 118—muncul lalu hilang, seperti bayangan yang tidak ingin terlalu lama dikenali.
Barangkali, di situlah pengalaman mulai berubah arah.
Sekitar 30 menit kemudian, rombongan memasuki Orbit Revolving Dining setelah menaiki tangga dua lantai.
Di dalamnya, meja-meja telah tertata rapi, dan satu hal yang membuat tempat ini berbeda: lantainya bergerak perlahan.
Tanpa terasa, restoran itu berputar. Pelan, nyaris tak disadari.
Namun cukup untuk membuat setiap sudut kota—yang tersisa di balik hujan—berganti posisi.
Ini bukan sekadar makan malam, melainkan perjalanan kecil yang terus bergerak.
Di area buffet, sekitar 70 jenis hidangan tersaji.
Dari masakan lokal Malaysia hingga menu internasional.
Para tamu mengambil makanan, lalu memilih duduk.
Sebagian sengaja mendekat ke jendela kaca—termasuk penulis—berharap bisa menangkap lebih banyak dari kota yang malam itu enggan sepenuhnya memperlihatkan dirinya.
Namun justru karena itu, suasana menjadi berbeda.
Lampu-lampu kota yang menembus hujan menciptakan pantulan lembut di kaca.
Tidak terang, tidak juga gelap—lebih seperti lukisan yang sedikit kabur, tapi justru terasa hangat.
Percakapan pun mengalir lebih panjang.