Teori Hans Kelsen vs Teori Sosiologi dalam Kasus Shin Tae-yong vs Patrick Kluivert

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Minggu, 12 Januari 2025 | 14:38 WIB
Wina Armada Sukardi, analis sepak bola. (f: istimewa)
Wina Armada Sukardi, analis sepak bola. (f: istimewa)

Dari proses ini dapat terlihat, Patrick Kluivert baru memenuhi salah satu syarat teori, tetapi pada sebagian lagi dia belum membuktikannya. Patrick Kluivert baru punya setengah kepingan, tetapi belum punya setengah kepingan lainnya.

Maka dari pendekatan ini, jelas menjadi harga mati bagi seorang Patrick Kluivert harus memberikan prestasi konkrit kepada kesebelasan Indonesia. Dan karena waktunya untuk menembus target masuk sebagai peserta Piala Dunia, Patrick Kluivert tak boleh lagi bertumpu pada proses.

Dia harus langsung diukur dengan hasil. Dengan prestasi. Bukan saatnya lagi bicara mengenai pemahaman sosiologis sepak bola Indonesia. Patrick Kluivert sudah dituntut untuk segera mengapai hasil maksimal. Hasil sesuai target.

Target terdekat kesebelasan nasional Indonesia: masuk final menjadi peserta Piala Dunia 2026. Tak soal mau lewat dua besar atau play of melalui empat besar. Pokoknya harus lolos. Kelolosan ini yang sudah ada melekat sebagai ekspetasi atau harapan pada kepingan kepelatihan Shin Tae-young. Kepingan inilah yang harus dicapai oleh Patrick Kluivert.

Jika kesebelasan Indonesia kalah dari Australia dalam pertandingan tandang dan kemudian di kandang tidak manpu mengalahkan China dan Bahrain, maka kesimpulannya sudah jelas : Patrick Kluivert telah gagal.

Dia sudah menghempaskan asa bangsa Indonesia yang sedang tumbuh berkembang. Dia tak berhasil memenuhi teori hasil sepak bola. Dalam hal ini, tak perlu menunggu lama lagi, dan tak perlu lagi ada perdebatan kembali, Patrick Kluivert sudah pasti segera layak didepak.

Jika gagal, Patrick Kluivert hanya menghadirkan sebagian kepingan: yakni aspek komunikasi, harmonis serta kepemimpinan sesuatu yang dinilai kurang atau tidak ada dari Shin Tae-young. Sebaliknya, kalau Patrick Kluivert tak berhasil menembus Piala Dunia, dia gagal memberikan prestasi, kepingan yang sudah dimiliki Shin Tae-young.

Kalau itu terjadi, sebagaimana sikap profesionalitas kita kepada Shin Tae-young, terhadap Patrick Kluivert pun harus diterapkan hal sama. Profesional. Tak perlu ada belas kasihan untuk memecatnya, walaupun usia kepelatihanbya baru seumur jagung.

Sebaliknya, jika Patrick Kluivert berhasil mencapai hasil yang baik melawan Asutralia dan menang melawan China dan Bahrain, serta meloloskan Indonesia ke Final Piala Dunia 2026, berarti dia mampu menyatukan kepingan sosial yang sudah dimilikinya dan kepingan prestasi yang sebagian sudah dimiliki Shin Tae-young.

Dengan kata lain, Patrick Kluivert merupakan kepingan hilang yang telah kita temukan kembali untuk menyatukannya dengan Kepingan yang telah kita miliki lewat Shin Tae-young.

Dalan konteks ini, tegasnya Patrick Kluivert berhasil menyatukan teori kemurnian sepak bola yang kita pinjam dari teori kemurnian Hans Kelsen dengan teori hukum sosiologis yang merupakan kenyataaan harapan masyarakat bangsa Indonesia.

Dalam dua bulan ke depan sudah ada: terbukti mana yang benar dan mana yang blunder. ***

Wina Armada SukardiAnalis Sepak Bola.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB
X