Norma hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan norma hukum yang lebih tinggi. Sedangkan kaidah hukum yang tertinggi ialah konstitusi. Teori ini dikenal teori hukum stufenbau atau teori hukum berjenjang.
Jika teori Hans Kelsen diterapkan dalam kasus Shin Tae-yong, tolak ukurnya harusnya hanya pada faktor-faktor sepak bola saja. Unsur-unsur di luar sepak tidak boleh dimasukkan sebagai pertimbangan. Dengan kata lain, ukurannya apakah prestasi yang dihasilkan di lapangan sepak hanya boleh dilihat dari hasilnya bagus atau tidak.
Dari pendekatan ini, faktor di luar prestasi sepak tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan.
Apakah dalam pengelolaan tim, ada komunukasi yang kurang lancar, ada protes atau ketidakpuasan, itu bukan masalah dan tidak boleh dijadikan masalah, sepanjang prestasi sepak bolanya bagus. Tak peduli strategi dipahami pemain atau tidak, pelatihnya “ditaktor” atau tidak, asal hasilnya bagus, prestasinya tinggi, tak ada masalah.
Dari pendekatan ini kepelatihan Shin Tae-yong harus diakui baik. Prestasi Shin Tae-yong dalam menangani kesebelasan Indonesia patut dibanggakan. Tak ada alasan untuk “menyingkirkannya.”
Teori Sosiologis
Berbanding terbalik dengan teori dari Hans Kelsen, di dunia hukum juga ada teori sosiologi hukum. Secara sederhana teori ini menerangkan penegakkan hukum tidak mungkin dapat dipisahkan dari kenyataan dan faktor-faktor sosial.
Hukum menurut teori ini, bukan menara gading yang terpisah dari lingkungan sosialnya. Jelasnya ada hubungan timbal balik antara hukum dengan struktur sosial, lembaga sosial, budaya, ideologi, dan nilai-nilai.
Hukum tak mungkin ditegakkan tanpa memperhatikan aspek kenyataan sosial. Misalnya peraturan kecepatan di jalan tol harus antara 70-100 km per jam. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih. Jika terjadi kemacetan sehingga kenyataan kecepatan tak dapat lebih dari 30 km per jam, apakah semua harus dihukum? Menurut teori sosiologi hukum, tentu tidak.
Jika diterapkan dalam kasus Shin Tae-yong, walaupuh dia berhasil mengapai hasil baik, tetapi kalau dalam kenyataan banyak api dalam sekam, jabatannya setiap saat dapat ditinjau kembali.
Walaupun sepak bola memang soal prestasi menang atau kalah, tetapi keharmonisan, kepemimpinan dan komunukasi sangat penting. Apalagi, dalam konteks keseimbangan kepentingan masa depan sepak bola Indonesia, penilaian tak boleh cuma terpaku pada sepak bola murni. Faktor-faktor sosial, budaya, kepenimpinan, dan komunikasi juga penting menjadi pertimbangan.
Pendekatan ini memungkinkan setiap saat semua pelatih dapat dan boleh dievaluasi, termasuk Shin Tae-yong. Dan kalau memang dirasakan diperlukan pergantian merupakan sesuatu yang dapat dilakukan. Dari sudut ini pergantian Shin Tae-young hal yang normal saja.
Harga Mati Target Patrick Kluivert
Dari proses yang ada PSSI menghendaki ada gabungan kedua teori itu. Prestasi iya, harmonisasi, komunikasi dan kepemimpinan juga iya.
Bagi Pengurus PSSI, prestasi jelas sangat penting. Pelatih kesebelasan nasional Indonesia harus membawa sepak bolah Indonesia kepada lebih yang lebih tinggi. Harus menggapai prestasi yang jelas.
Dalam hal ini, Shin Tae-yong telah memenuhi syarat yang ada. Namun pengurus PSSI menilai unsur harmonis, solidaritas, komunikasi, dan kepemimpinan merupakan hal yang juga penting. Sesuatu yang justru dipandang kurang ada pada Shin Tae-yong. Oleh karena itu, Shin Tae-yong dipecat.
Lantas, datanglah Patrick Kluivert. Ahad (12/1/2025) siang, dia diperkenalkan secara resmi.
Dalam berbagai wawancara sebelumnya, Patrick Kluivert memang memiliki visi harus ada kesatuan yang harmonis antara pemain, pelatih, induk organisasi, dan para pendukungnya.
Artinya, Patrick Kluivert dinilai dapat memenuhi elemen harmonisasi, komunikasi, dan kepemimpinam buat sistem nasional. Oleh sebab itulah dia dipilih untuk diangkat menjadi pelatih baru kesebelasan nasional.