Mengenang Marissa Haque, Catatan Ilham Bintang

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Rabu, 2 Oktober 2024 | 17:23 WIB
Marissa Haque, semasa hidup. (f: istimewa)
Marissa Haque, semasa hidup. (f: istimewa)

ARTIS Marissa Haque telah tiada. Ia meninggal dunia, seperti pergi mendadak, di RS Premier, Bintaro, Rabu (2/10/ 2024) dinihari, dalam usia 61 tahun, 13 hari menjelang menginjak usia 62 tahun.

Ia lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962 dari pasangan Allen Haque -Mieke Haque.

Icha, begitu panggilan akrabnya, meninggalkan suami, musisi dan pengusaha Ikang Fawzi, serta dua anak : Isabella Fawzi dan Chiki Fawzi.

Saya mengenal Icha lebih 40 tahun, masih saat mengawali debutnya sebagai bintang film lewat film pertamanya "Kembang Semusim". Film itu disutradarai MT Risjaf dan diproduksi tahun 1980. Icha berusia 18 tahun ketika bermain film itu.

Icha satu di antara sedikit artis Indonesia yang menorehkan catatan gemilang di berbagai bidang pengabdian. Ia mencapai jenjang pendidikan tinggi, hingga bergelar Profesor, Guru Besar.

Selasa (1/10/2024), kurang dua puluh empat jam sebelum wafat, ia masih mengajar di kampus. "Kami mengajar di kampus yang sama, STIE IBS Kemang, Jaksel, Selasa kemarin masih mengajar dan nampak bugar. "

Ini saya kutip dari pernyataan sesama dosen yang beredar di beberapa WAG tadi pagi. Serasa tak percaya tapi nyata. Tapi, begitulah takdir Ilahi bekerja.

Cawagub Banten
Icha tidak hanya menggeluti dunia film dan pendidikan, tetapi juga dunia politik. Istri rocker Ikang Fawzi ini pernah menjadi Anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Pernah juga diusung maju menjadi Cawagub Banten berpasangan dengan Zulkieflimansyah sebagai Cagub.

Namun, jelang penetapan KPU, PDIP yang mengusungnya mendadak mencabut dukungan untuk Icha dan mengalihkan sokongannya, justru kepada pesaingnya, yaitu Ratu Atut Chosiyah yang diusung Golkar.

Icha kecewa dan wajar jika murka. Tampaknya, itu pelajaran berharga pertama Icha di dalam dunia politik.

"Tiada lawan dan kawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan," kata ungkapan klasik dalam politik. Saya menulis ulasan waktu itu, di tahun 2006, merespons peristiwa politik yang dialami Icha.

Sebagai akademisi (waktu itu kandidat Doktor di IPB, Institut Pertanian Bogor), pasti sulit baginya yang biasa berpikir runut, sistematis, terukur, menerima sisi "gelap" dinamika politik yang mudah berubah.

Hal sama pernah dialami aktor kawakan Sophan Sophiaan yang akhirnya memilih mundur sebagai anggota DPR RI.

Ada kesamaan Sophan dan Icha. Sama -sama lurus dan ekstrovert. Bersikap tegas dan berbicara terbuka. Sehingga, pengalaman pahit politik mereka menjadi konsumsi publik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB
X