Mengenang Marissa Haque, Catatan Ilham Bintang

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Rabu, 2 Oktober 2024 | 17:23 WIB
Marissa Haque, semasa hidup. (f: istimewa)
Marissa Haque, semasa hidup. (f: istimewa)

Tentu, termasuk sikap pragmatis partai yang mengutamakan kekuasaan.

Dalam tulisan itu, saya menilai Icha belum "matang" berpolitik. Lupa, DNA parpol harus "berhitung siapa mendapat apa".

Kalkulasi parpol pengusungnya, secara elektoral Ratu Atut tidak bisa dikalahkan. Berbagai survei menyajikan data-data kedigdayaannya. Maka, parpol pengusung Icha pun memilih balik kanan mendukung lawan.

Icha tampaknya tidak memperhitungkan soal pentingnya bagi parpol meraih kekuasaan ketimbang yang lain, yang sebenarnya lebih utama: etika dan moral. Marissa dan Sophan berbasis itu dalam berpolitik.

Icha tidak sepenuhnya menerima pikiran saya dalam tulisan mengenai itu. Ia bahkan memprotesnya.

Dia mengunjungi saya di kantor menyampaikan protesnya, dan saya penuh takzim mendengarkan saja. Toh, sebenarnya, tulisan yang mengulas kasus Banten itu, bersifat satire.

Sisi lain membenarkan dia, yang berpegang pada komitmen etika dan moral. Namun, itu dia: meski itu tidak berlaku dalam politik. Setidaknya, dalam kasus dia ditelikung parpol pengusungnya di Banten.

Di dunia film Icha belasan tahun berjaya, membintangi puluhan judul film. Ia juga mengantongi Piala Citra Aktris Terbaik, lambang supremasi tertinggi dunia film Indonesia.

Selanjutnya, ia tidak hanya sebagai pemain, juga sebagai produser dengan memproduksi sejumlah film.

Pemeran Iyom, Gadis Bisu
Sebagai bintang, karirnya semakin moncer saat membintangi film "Matahari-Matahari" (1985) yang disutradarai Arifin C Noer.

Film itu bercerita tentang warga yang karena terdesak kemiskinan akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta bersama istri dan anaknya yang bisu.

Bukannya mendapatkan penghidupan yang lebih baik, warga malah berada di bawah pengaruh Sarkim, raja pengemis.

Icha bermain sebagai Iyom, gadis bisu. Film itu menjadi andalan Icha untuk meraih Piala Citra Festival Film Indonesia tahun 1986.

Saya mengulas film itu sebagai film bagus namun, justru tidak melihat Icha berhasil memerankan tokoh Iyom yang gagu.

Gestur Icha lebih tampak seperti memerankan tokoh idiot. Icha marah membaca itu. Dia menelpon saya, memprotes, seperti biasalah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB
X