Novelet Religi “Sang Tokoh”: [9] Berjumpa Ratu Pantai Selatan

photo author
Novrizon Burman, Riau Satu
- Rabu, 20 Maret 2024 | 23:48 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Dari kamar di subuh menjelang pagi masih dapat melihat matahari mulai terbit. Sebaliknya di senja hari terlihat matahari mulai mengundurkan diri. Dua-duanya memmberikan pemandangan yang indah.

Kamar Sang Tokoh berada pada deretan paling akhir di antara kamar keluarga, tapi belum sampai di ujung kamar hotel.

Sudah tiga hari di hotel, hampir setiap hari Sang Tokoh lari pagi dan melihat matahari siap terbit menjalankan tugasnya. Desiran ombak dan udara yang segar membuat Sang Tokoh menikmati benar suasana itu.

Sore hari terkadang turun hujan gerimis, namun tak lama. Sebelum magrib hujan biasanya sudah berhenti. Tapi sore ini tak ada hujan.

Malamnya udara panas. Walaupun di kamar sebenarnya udara panas itu tak terasa karena ada AC, namun Sang Tokoh merasa ingin mendapat udara malam di tepi pantai.

Dia turun ke lobi dan menuju daerah bibir pantai. Sepi. Hampir tak ada orang. Hanya ada beberapa lampu menuntun jalan ke pantai danb alik ke hotel.

Sang Tokoh menengadah ke atas. Bulan terlihat bulat lonjong sepatuh dan berwarna kuning keemasan.

Bintang-bintang berserakan di langit. Sebagian ada yang nampak berkelap-kelip. Angin bertiup sedikit kencang. Tapi tak lama kemudian, cuaca cepat berubah.

Awan hitam seakan mengusir bulan dan bintang-bintang. Seperti menyerah, bulan dan bintang semuanya sudah tertutup awan, diikuti jatuhnya tetesan air hujan ke bumi.

Untuk menghindari air hujan yang mungkin lebih besar, Sang Tokoh berlari-lari kecil ke dalam hotel. Sebelum masuk hotel, dia
mengibas-ngibaskan bajunya dari butiran air yang menempel di bajunya.

Masuk ke dalam lobi hotel dia mendengar jelas suara gamelan. Di arah kaca depan dia melihat para pemain gamelan sedang menabuh masing-masing alatnya. Mereka nampak masih muda dan tampan, dengan busana adat Sunda Jawa Barat.

Dari tempat Sang Tokoh berjalan, dia juga melihat dengan jelas ada beberapa sinden duduk di bagian depan, namun mereka tidak bersenandung. Para sinden itu masih belia serta terlihat jelita dan berseri.

Di seputar pertunjukan gamelan, Sang Tokoh merasa mencium bau harum alamiah kembang. Dalam beberapa tradisi daerah  memang di seputar gamelan sering ditabur berbagai kembang yang harum untuk memberikan keselarasan antara bunyi dan suasana kebatinan.

Sang Tokoh menengok jam tangannya. Pukul 20.58. Hebat juga nih hotel, batin Sang Tokoh, sampai malam begini masih menampilkan pertunjukan gamelan. Tidak peduli ada atau tidak ada penontonnya, hotel tetap konsisten menyajikan pertunjukan gamelan.

Santai Sang Tokoh menuju lift yang terletak tak jauh dari sana. Setelah dia masuk lift dan telah menekan angka tombol lantai kamarnya, tiba-tiba muncul dua wanita muda. Mereka memakai kebaya hijau dan rambutnya disanggul. Keduanya menekan tombol stop.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novrizon Burman

Tags

Rekomendasi

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB
X