Menelusuri tanjakan di antara dingin hawa Merapi dan bahaya erupsi.
Di perjalanannya, dia menemukan banyak pendaki dengan kondisi lemah, termasuk dia pendaki yang berlindung di warungnya di Cadas.
Kepada para survivor diminta bersabar untuk menunggu bantuan, sedangkan Naro dan tim turun membawa satu pendaki yang terluka dengan cara menggendongnya.
Bergantian mereka bertiga menggendong survivor, dan menjelang subuh tadi mereka sampai ke posko evakuasi yang telah dibangun tim SAR dan BKSDA di pintu rimba.
Kini wajah heroik Pak Naro, pemuda, dan warga Batu Palano, banyak menghiasi televisi dan media sosial.
Sampai siang (Senin, 4/12/2023, red) ini, sejumlah media merilis terdapat 11 pendaki yang meninggal dunia dan dievakuasi dari puncak.
Semoga perjuangan tim SAR dan para relawan, terkhusus warga Batu Palano membawa kebaikan untuk semua.
Dan, kita bisa memetik hikmah dari peristiwa ini. ***
(Tulisan ini saya dedikasikan untuk Uda Naro, suami dari kerabat saya di kampung halaman tercinta, Nagari Batu Palano)
Sukmareni Rizal
Aktivis Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi