Jalur pendakian sempat buka tutup sejak status waspada pada 2011 silam.
Ketika jalur pendakian dibuka selalu ramai. BKSDA Sumbar yang menjadi pengelola kawasan ini membuat sistem mengatur para pendaki, para pendaki mendaftar online pada sistem yang disiapkan BKSDA.
Seperti kemarin tercatat 70 yang mendaftar online mendaki Marapi, 54 masuk melewati Batu Palano, sisanya melalui jalur Koto Baru.
Siapa sangka, jam 3 sore kemarin dentuman Gunung Marapi menggetarkan bumi.
Kondisi hujan dan kabut yang menyelimuti puncak tidak memperlihatkan gelombang asap muncul dari gunung Marapi.
Yang terasa hanya getaran dan dentuman, tak lama aroma belerang menyeruak.
Sah dan pasti dentuman dari gunung yang meletus.
Naro dan istrinya masih di pondok mereka ladangnya sedang mengemasi daun bawang, atau disebut juga bawang perai, ketika dentuman itu terjadi.
Terkejut, karena Gunung Marapi biasa erupsi, tapi tidak sebesar itu dentumannya.
Orang lain sudah berhamburan ketika dentuman ini terjadi, Pak Naro dan istri tetap tenang, dan kemudian mempercepat pekerjaan untuk kemudian langsung membawa hasil panen itu turun ke rumahnya.
Magrib menjelang telepon Pak Naro sudah tidak berhenti berbunyi, tim SAR dan organisasi lain yang kenal dengan beliau menghubungi.
Selain menanyakan kabar yang terpenting dari informasi itu adalah meminta kesediaan beliau untuk membantu proses evakuasi.
Pak Naro tidak punya pilihan, di antara derai air mata istrinya, Naro maju ke medan evakuasi.
“Hanya doa yang kami panjatkan, melepas perjalanan beliau untuk membantu para pendaki, semoga selamat,” kata Alisa Sikumbang, istri Naro.
Naro bersama Dino dan Endah, boleh disebut sebagai tim evakuasi pertama yang bergerak ke puncak, mengamati keadaan dan memetakan posisi para survivor.