Oleh: Wina Armada Sukardi
INILAH arena yang ditetapkan untuk pertarungan antara Sang Tokoh dan Lelaki Kelompok Hitam. Pertarungan golongan putih melawan golongan hitam.
Tokoh kita mewakili golongan putih, lawannya mewakili golongan hitam. Venue ini dipilih sebagai arena tarung itu. Sebuah tempat kabarnya milik sebuah banjar Bali. Mungkin disewa.
Letaknya agak terpencil. Untuk masuk sampai ke tempat ini, harus melalui berbagai pohon besar, terutama pohon beringin. Di sisi kiri ada pengunungan yang masih ditumbuhi semacam hutan cukup lebat. Di sana masih ada banyak binatang buas, terutama monyet-monyet.
Sebagian sudah sering berinteraksi dengan manusia, sebagian lagi masih semi liar. Juga ada beberapa harimau. Tentu banyak pula ular dan burung.
Kalau terus masuk melewati venue duel, akan ada pantai. Walaupun pasirnya hitam, sebenarnya pantai ini indah, tetapi karena ada dua palung yang dapat menyedot orang ke bawah, pantai ini jarang dikunjungi orang, terutama wisatawan. Mungkin terlalu bahaya.
Rumah-rumah di depan pantainya juga cuma ada beberapa saja. Sebaliknya di depan ketika masuk, terutama di sebelah kanan, penduduknya malah cukup padat.
Semalam Sang Tokoh diberitahu ditempat ini bakal dilaksanakan “duel.” Diminta Sang Tokoh tak boleh membawa penonton, karena “nanti sudah pasti banyak penonton dari kedua belah pihak.”
Sang Tokoh tak mengerti bagaimana mungkin penonton “dari kedua belah pihak” bakal hadir, jika tak ada dari pihaknya yang diberitahu acara ini? Hanya keluarganya sendiri yang tahu.
Memang, menurut ketentuan, hanya keluarganya yang boleh menghadiri pertarungan menjadi penonton. Selain itu dilarang. Kepada keluarganya, Sang Tokoh sudah menceritakan semuanya.
“Aneh,” kata Ayah Sang Tokoh. Anggota keluarga lain tidak berkomentar apa-apa.
Mereka mengantar Sang Tokoh naik mobil sewaan.
“Nih saya bawa tongkatnya. Kemarin baru beli,” ujar kakaknya membanggakan sebuah tongkat yang baru dibelinya.
“Allaaa, tongkat kayak gitu mah di Puncak juga banyak di jual di pinggir jalan,” adiknya mencela.
“Ini lain dong. Lihat penuh ukirannya sepanjang tongkat. Padahal, terbuat dari kayu ulin hitam dari Kalimatan yang sangat keras lho. Susah banget diukirnya! Terus gagangnya dilapis dari tanduk sapi. Pokoknya istimewa, deh," tutur kakaknya membela diri.
“Terus buat apa dibawa-bawa?” ejek adiknya lagi.