kolom

Novelet Religi “Sang Tokoh”: [10] Tantangan Kedua

Kamis, 21 Maret 2024 | 21:57 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Begitu mendarat di Bali dan turun dari pesawat, sangat terasa armosfir Bali sangat lain. Iklim di Bali memberikan kedamaian dan keteduhan, meski udara sebenarnya panas.

Kepingan surga yang jatuh ke dunia ini, demikian Bali sering dijuluki pengamat wisata, bagaikan magnit  untuk mengundang turis, bukan saja karena pemandangannya  yang, indah tetapi juga nuansa kebatinan yang teduh. Itulah yang dirasakan keluarga Sang Tokoh, terutama Sang Yokoh sendiri.

Berjalan menuju pengambilan barang, Sang Tokoh berada pada posisi paling belakang. Dia santai saja menikmati Bali. Wajahnya juga menyuratkan rasa nyaman. Santai.

Dia  berjalan perlahan sambil menikmati hiruk pikuk Banda Ngurai Rai Bali. Baru di Bandara saja nuansa kebatinan Bali sudah berbeda. Selain memberikan rasa tenang, walaupun pulau wisata, Bali tidak menghadirkan keterburu-buruan. Segalanya berlangsung seperti sesuai dengan irama alam. Sang Tokoh merasa nyaman dan menikmatinya.

Saaat itulah, tap! Tiba-tiba tangan kanan dan kirinya diapit oleh dua orang di kanan kirinya. Keduanya berbadan kekar. Orang di sebelah kiri, berkulit hitam pekat dengan sorotan mata kejam.

Sedangkan orang yang di sebelah kanan, berkulit kuning dan matanya sipit. Tubuhnya juga kekar. Keduanya memakai jaket. 

Sekali diputar oleh kedua orang itu, badan Sang Tokoh sudah berbalik arah. “Jangan berteriak. Jangan bicara. Ikuti saja kami,” kata orang yang berbadan hitam.

“Kalau tidak badanmu pasti remuk!”

Sebenarnya Sang Tokoh tidak gentar. Dia sama sekali tidak khawatir dengan ancaman ini. Oleh sebab itu dia masih santai dan berpikir segera melawan.

“Jangan coba melawan! Ingat keluarga Anda juga bisa terancam lebih parah!” timpal si mata sipit.

Sang Tokoh mau menengok ke belakang mencari tahu keadaan keluarganya, tetapi segera didorong ke depan lagi oleh si hitam.

Sang Tokoh tidak takut akan keselamatan dirinnya, lantaran dia percaya dapat mengatasinya sendiri, namun keselamatan keluarganyan lain soal. Demi keselamatan keluarganya, Sang Tokoh dia tidak  jadi melawan dan memilih mengikuti dua orang yang membawanya. 

“Kalian siapa?” tanya Sang Tokoh.

“Nanti juga tahu sendiri!” jawab si mata sipit.

“Saya mau dibawa ke mana?”

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB