Dia menarik nafas sebentar kemudian meneruskan berbicara, “Kalau gak jadi, saya akan buat acara sendiri!”
Setelah para negosiator dari pihak lain berunding mereka meminta waktu untuk memutuskan sampai besok.
Perundingan berhenti.
Tapi pagi-pagi, esok harinya, Sang Tokoh sudah mendapat kabar: teman SMPdan SMA-nya setuju!
Sesuai jadwal yang ditentukan, acara pun dilaksanakan.
Sebagaimana pengadilan pada umumnya, Sang Tokoh duduk di kursi meja yang ada di depannnya. Di depan meja itu duduk tujuh Dewan Juri. Dari tujuh juri itu, tiga orang dipilih oleh pihak kawan SMP-SMA Sang Tokoh.
Sementara tak ada satupun yang dipilih oleh Sang Tokoh, karena Sang Tokoh sudah menyatakan siapapun anggota Dewan Juri-nya dia setuju. Siapapun jurinya Sang Tokoh merasa sama saja. Tak ada perbedaan. Dia siap menghadapi semuanya.
Di sebelah kanan duduk teman SMP-SMA Sang Tokoh. Di samping kiri ada layar besar dan di depan nya ada meja kecil. Di atas meja itu ada beberapa Al-Qur'an dari beberapa penerbitan. Di bangku belakang agak jauh, duduk penonton.
Waktu Sang Tokoh datang dia sempat menyodorkan tangan untuk bersalaman ke temannya SMP-SMAnya. Mereka memang bersalaman, tapi wajah temannya itu melengos ke arah lain.
Pembawa acara segera membuka acara.
"Hadirin acara segera dimulai. Perlu diketahui acara ini diisaksikan oleh 23 juta penonton.”
Berarti banyak uang masuk. Sebagian hadirin bertepuk tangan.
Juri pertama meminta Sang Tokoh mengambil sebuah Al-Qur'an, dan membaca sebuah surat yang harus dicarinya di Al-Qur'an itu.
Begitu Sang Tokoh mengambil Al-Qur'an, dia memperlihatkan ke Dewan Juri. Masing-masing juri mengambil Qur'an dari penerbitan yang sama dengan yang diambil Sang Tokoh.
Di depan Dewan juri memang juga disiapkan beberapa Qur'an dari berbagai penerbitan.