Inilah yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Publik sibuk menghitung nilai gizi satu porsi makanan, tetapi jarang menghitung berapa banyak lapangan kerja yang tercipta dari satu dapur yang beroperasi setiap hari.
Padahal dalam konteks pembangunan ekonomi, dampak tersebut bisa jadi jauh lebih besar dan lebih berkelanjutan.
Menuju Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Target tersebut tidak mungkin dicapai hanya dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga dan investasi besar di perkotaan.
Indonesia membutuhkan mesin ekonomi baru yang mampu bergerak hingga ke tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten.
BGN dan SPPG memiliki potensi menjadi salah satu mesin tersebut.
Setiap dapur menciptakan aktivitas ekonomi harian.
Setiap dapur menciptakan permintaan bahan baku.
Setiap dapur menyerap tenaga kerja.
Setiap dapur menggerakkan usaha kecil dan menengah.
Dan ketika ribuan dapur bekerja secara bersamaan, dampaknya terhadap ekonomi nasional menjadi sangat signifikan.
Dalam perspektif ekonomi pembangunan, inilah yang disebut sebagai multiplier effect atau efek pengganda ekonomi. Uang negara yang dibelanjakan tidak berhenti pada satu titik, tetapi berputar berkali-kali dalam perekonomian masyarakat.
Karena itu, melihat BGN dan SPPG semata-mata sebagai program gizi adalah cara pandang yang terlalu sempit.