Inilah motivasi menyempurnakan gerakan. Ini bagian dari tanggung jawab memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Kombinasi keindahan dan menembus limit terakhirm
Pada set kedua, setelah kejar mengejar pada point-point awal (5-5), selanjutnya Jorji tak tertahankan.
Penempatan bola yang bagaikan sulap penuh kejutan, membuat Ratchanok Intanon keteteran.
Sering membuat kesalahan sendiri sampai tertinggal jauh sekali, dan akhirnya menyerah kalah.
Jorji menang dalam tempo 47 menit dengan skor akhir 25-23, 21-9.
Dilihat dari statistik head to head melawan Ratchanok Intanon, sebenarnya, Jorji kalah jauh.
Dari sembilan kali pertemuan Jorji dengan Ratchanok Intanon, Jorji selalu kalah dan hanya menang sekali.
Kemenangan Jorji melawan Intanon terjadi pada pertemuan terakhir mereka, yakni pada Piala Uber tahun ini. Saat itu Jorji menang dua gim langsung dengan skor 22-20 dan 21-18.
Data itu sejati dapat mengetarkan Jorji. Data ini sekaligus juga menerangkan kepada kita: jika Jorji kalah merupakan sesuatu yang lumrah.
Data hanya sekali menang dalam sembilan laga tanding, pastilah lumrahnya menekan. Itu fakta objektif.
Tapi tarian Jorji kali ini menyelamatkannya. Si Dancing Queen menunjukkan kehebatannya, dan menjadi asa satu-satunya atlit bulu tangkis Indonesia yang masih dapat menyumbangkan medali di Olimpiade tahun ini.
Lawan Jorji di semifinal, Ahad (4/8/2024), pemain yang bukan alang kepalang: pemain Korea Selatan, An Se-young.
Kali ini An Se-young yang berstatus unggulan pertama. Dia lebih dulu lolos ke semifinal usai mengukir comeback menundukkan pemain Jepang Akane Yamaguchi dengan skor 15-21, 21-17, 21-8.
Tentu kita berharap Si Dancing Queen, Ratu Menari, Ratu Dansa, bukutangkis Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, dapat mencampai hasil maksimal.
Kendati demikian, biarkan dia terus menari. Jorji sudah menunjukan keindahan gerakan kakinya.