Pertama, Sekretaris Jenderal yang ditinggalkan Sayed Iskandarsyah digantikan oleh Irsyad Iqbal yang sebelumnya Ketua Satuan Tugas Anti Hoax. Padahal, di posisi sekretariat itu, ada dua Wakil Sekjen dan pantas menggantikan.
Kemudian, Bendahara Umum yang dijabat Marthen Slamet digantikan oleh M. Nasir. Slamet didegradasi sebagai Ketua Kerjasama dan Kemitraan menggantikan Sarwani yang menjadi Wakil Bendahara Umum (Wabendum).
Ada dugaan Slamet digusur dari bendum, karena Hendry dan kawan-kawan "dendam". Sebab, saat pencairan fee dan cashback itu, Slamet sebagai Bendum tidak dilibatkan. Ia pun dipanggil DK dan membuat kronologisnya, sehingga membuat BUMN-gate makin terang-benderang.
Lebih parahnya lagi, Hendry Bangun mengganti sejumlah anggota DK.
Akibat perombakan yang dianggap di luar kelaziman tersebut, DK kemudian mencabut kartu tanda anggota (KTA) PWI Hendry Chairudin Bangun.
Pencabutan itu sama saja dengan memecatnya dari Ketum. Sebab, tidak lagi memiliki legitimasi sebagai pimpinan PWI Pusat. DK juga memerintahkan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang menggelar Kongres Luar Biasa (KLB).
Nah, lagi-lagi Hendry Chairudin Bangun melakukan hal yang di luar nalar dan di luar dugaan. Ia memberhentikan dengan tidak hormat Zulmansyah Sekedang.
Walaupun Rapat Pleno PWI Pusat pada Rabu, 24 Juli 2024 memutuskan Zulmansyah Sekedang menjadi Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum, apakah masalah selesai?
Belum tentu juga. Karena Hendry Chairudin Bangun terus melakukan manuver dan perlawanan.
Jika seperti ini, sampai kapan kemelut di PWI Pusat bisa berakhir? Semua prihatin. Semua bersedih. Gunakanlah etika dan moral dalam menyikapi kemelut yang terjadi.
Semestinya, Hendry Chairudin Bangun legowo mundur, seperti langkah yang sudah diambil tiga orang pengurus harian sebelumnya. Buat apa mempertahankan kedudukan yang penuh dengan masalah. Malulah, terutama pada diri sendiri, keluarga, dan kawan-kawan.
Apalagi, pangkal persoalannya adalah penyalahgunaan uang yang secara tidak langsung telah diakui dalam Rapat Pleno Diperluas PWI Pusat.
Semua masih ingat ucapan Hendry Bangun saat berpidato setelah terpilih menjadi Ketum dalam Kongres XXV, di Bandung, Jawa Barat. Intinya, “Saya akan membuat PWI menjadi rumah bersama, dan akan mengembalikan marwah PWI."
Mau mencari apa lagi? Atau memang Anda sengaja dititipkan memimpin PWI Pusat untuk diobok-obok, seperti halnya yang terjadi pada beberapa partai politik? Semoga tidak! ***
Sumber: