Lalu Jokowi? Beliau de facto dan de jure adalah Presiden Republik Indonesia. Negara seluas separo Benua Eropa.
Tetapi betapa tidak berharganya kedudukan Jokowi selalu diulang-ulang sebagai petugas partai oleh Megawati Soekarnoputri. Benar secara de facto. Tetapi, kata orang Jawa, benar saja tidak cukup. Harus komplet. Bener lan pener. Benar, dan tepat. Benar faktanya, tetapi tepat posisi dan cara menerapkan atau mengungkapkannya.
Dampak dari ucapan Bu Mega luar biasa. Bukan untuk memahamkan, malah semakin liar yang mengesankan bahwa presiden adalah sekadar petugas. Setinggi-tingginya apa jika dikatakan sebagai petugas. Padahal ada kata yang artinya sama, tetapi bermakna lebih tinggi. Duta Partai misalnya.
Lalu, episode berikutnya, ketika di depan seluruh kader dan disiarkan secara terbuka Bu Mega mengulangi lagi dengan tone tinggi. Bahkan lebih dari itu, terkesan "merendahkan" Jokowi.
Sekali lagi tidak ada yang salah. Mungkin kurang tepat waktu dan tempatnya. Apalagi disiarkan terbuka. Kembali lagi, ungkapan Bu Mega dijadikan amunisi untuk menambah olok-olok kepada Jokowi yang notabene masih Presiden RI.
Ketika itu, Presiden tetap tersenyum tetapi sekejap berhenti. Apa artinya? Penulis yakin, tidak berkenan. Demi untuk menjaga adab saja, Jokowi tersenyum.
Satu dua tiga kali diulang, maka Presiden pasti berpikir dan merenung. Bagaimana keluar dari bayang-bayang sebagai petugas untuk menjadi diri sendiri. Hanya ada satu kata. Melawan! Kehormatan harus dijaga, dan dipertaruhkan.
Mungkin orang akan menggugat tentang tentang balas budi. Lho, bukankah balas budi sudah dilakukan dengan memberi begitu banyak jabatan pada Bu Mega, juga menteri-menteri. Termasuk berbagai jabatan kepada orang-orang partai.
Lagi pula, benarkah dalam kosakata politik perlu rasa malu, atau pun balas budi? Tergantung situasi bukan?
Dengan tekanan demikian, maka kata "sabar" yang sering diungkapkan Pak Jokowi jadi tidak bermakna tunggal. Sabar menghadapi olok-olok Bu Mega. Sabar menunggu langkah politiknya. Sabar menghadapi realitas Gibran dicalonkan Golkar, dll.
Interpretasi ini bisa saja salah seperti saya uraikan sebelumnya, tetapi bisa saja benar. Sejarah yang akan membuktikan. Wallahu alam bisawab. ***
Hendro Basuki
Wartawan Senior