Di antara kita banyak yang bertanya, kenapa Ir Soekarno di satu sisi mempercayai Tuhan yang Maha Esa, tetapi di sisi lain menolak membubarkan PKI.
Kenapa pula Dipa Nusantara Aidit yang relegius menjadi Ketua Umum PKI? Kenapa Soeharto yang murah senyum menjadi tegas dan keras di sisi yang lain?
Membaca manusia politik Indonesia tidak bisa sekadar membaca teks. Menginterpretasi Soekarno bisa dengan membaca seluruh karyanya. Tetapi membaca manusia Soekarno membutuhkan interpretasi agar mendekati kesahihan?
Kenapa Soekarno merasa perlu beristri lebih dari satu? Ini tentu tak bisa dengan membaca teks dari karya pribadi atau karya orang lain.
Mungkin saja, beliau melakukan itu karena terilhami untuk "menaklukkan" atau lebih halus membangun "persaudaraan" dengan perikatan perkawinan dengan suku Jawa, Sunda, Minang, Sulawesi, dan lain-lain.
Betapa bangganya perempuan saat itu disunting Bung Karno. Dan, perlu juga dipahami, Soekarno itu wilayah kekuasaannya setara Prabu Brawijaya zaman Majapahit.
Kebudayaan yang membentuk Soekarno masih sangat kental dengan feodalisme, di mana raja merupakan gung binatara. Menguasai semesta alam.
Demikian juga memahami Soeharto dengan seluruh tindakannya sebagai manusia politik. Dibesarkan dalam tradisi Jawa pedesaan, dan prajurit maka seluruh strategi politik yang dibangun sebagai manusia Jawa yang berpolitik, tak akan jauh dari tradisi tata tentrem kerta tur raharja. Bahwa dibutuhkan ketentraman untuk mewujudkan kemakmuran.
Lalu bagaimana dengan Presiden Joko Widodo? Cara kita menafsirkan performa Jokowi tidak bisa berbekal pada referensi atau teks-teks politik biasa itu. Kita mesti membaca sejarah, dan kultur Solo yang membentuknya.
Seperti Pak Harto, Jokowi juga menampilkan citra yang sederhana. Wajah ndesanya sangat kental, cara berjalannya seperti orang Solo umumnya. Kosa katanya terbatas, dan tak pula meledak-ledak.
Tetapi jika tak suka, seperti dikatakan Panda Nababan, Tjahyo Kumolo hanya berkomunikasi dua kali saja selama menjadi Mendagri.
Keluar dari Bayangan
Penulis mencoba membaca Jokowi dengan seluruh tindakan politiknya akhir-akhir ini dari perspektif budaya Jawa.
Ada peribahasa Jawa berbunyi "sak dumuk bathuk sak nyari bumi". Arti bebasnya, satu kali tudingan bisa seluas jagat. Satu kali ejekan, maka kehormatan harus dipertaruhkan. Bahkan harus diperjuangkan sampai mati.
Pangeran Diponegoro melakukan perang ketika makam leluhurnya dilanggar. Pangeran Sambernyawa memberontak karena kehormatannya disisihkan. Sak dumuk bathuk sak nyari bumi.