Kalau seorang pekerja kasar di rumah produksi gambir mampu meraup upah antara Rp10 juta sampai Rp15 juta per bulan, hasil yang lebih tinggi diperoleh pemilik ladang gambir –yang biasanya langsung menjadi pekerja di ladang gambir miliknya--, yaitu antara Rp20 juta sampai Rp30 juta per bulan.
Tapi, zaman bertukar, musim berganti; semua hal-hal indah soal harga gambir mahal, sejak beberapa tahun belakangan hanya tinggal menjadi kenangan. Terhitung sejak Maret 2017, harga gambir tak pernah lagi mengalami lonjakan berarti.
Gambir belakangan ini sama saja dengan sejumlah komoditas perkebunan lainnya: susah-susah mengurusnya dengan mengeluarkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit, manakala dipanen hasilnya tidak pernah mampu menutupi biaya produksi— boro-boro untuk meraup keuntungan.***