Kenapa bisa terjadi perlakuan yang berbeda di Riau? Tidak ada penolakan dan pengembalian nama yang diusulkan Gubri. Yang muncul malah rumor keras yang mengguncang sosial politik di masyarakat dan elit pemerintahan. Dua nama yang direstui pusat untuk jabatan Pj Walikota Pekanbaru dan Pj Bupati Kampar, bukan yang dikirim gubernur.
Nama Muflihun dan Kamsol mendadak viral dan jadi tranding topic di Riau, khususnya Pekanbaru dan Kampar. Dari mana asal sumber berita itu? Siapa yang menyebarnya? Jikalau tidak berada-ada, masakan tempua bersarang rendah. Peribahasa Melayu ini sangat cocok kita sandingkan dengan polemik yang tengah heboh ini. Tak kan ada asap kalau tak ada api. Artinya, segala sesuatu pasti ada sebab musababnya.
Kalau ini benar terjadi, sungguh keterlaluan. Gubernur Riau Syamsuar dipermalukan oleh bawahannya sendiri. Beberapa pengamat politik lokal malah menyimpulkan bahwa kejadian itu menunjukkan lemahnya komunikasi Syamsuar dengan pusat. Kok bisa anak buahnya sendiri ‘nyelonong' ke pusat, mem-peta kompli wewenang gubernur.
Untuk menjernihkan masalah ini, sudah sepatutnya pihak Kemendagri bersuara. Berbagai praduga liar itu harus segera diklarifikasi. Jika nantinya benar-benar nama Muflihun dan Kamsol yang muncul menjadi Pj, tanpa ada alasan yang kuat di balik penunjukan tersebut, Gubri Syamsuar sudah sepatutnya menolak keputusan tersebut. Hampir seluruh elemen masyarakat di Riau sepakat menolak keputusan itu. Setidaknya dapat meredam diksi dan perpecahan di masyarakat.
Keputusan berada di tangan Gubri. Sambil menunggu akhir kisah ini, baiknya sudah dipikirkan apa sikap yang akan diambil; berdiri gagah mempertahankan marwah, atau tetap diam dengan memendam sakit hati.
Raja alim raja disembah. Raja lalim raja disanggah.***
Helmi Burman
Pemimpin Umum Riausatu.com