SENJA di Kuala Lumpur tidak selalu datang dengan langit yang bersih.
Pada Selasa, 28 April 2026, ia justru hadir dengan awan tebal yang menggantung rendah, seolah ingin menutup rapat wajah kota sebelum malam benar-benar turun.
Hujan mulai jatuh ketika rombongan peserta 21st General Assembly Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) tiba di kawasan Kuala Lumpur Tower sekitar pukul 18.31.
Tidak deras pada awalnya, tapi cukup untuk mengaburkan garis-garis langit yang biasanya tegas.
Namun perjalanan, seperti juga hidup, jarang menunggu cuaca menjadi sempurna.
Sebanyak 31 jurnalis dan pimpinan media dari Asia Tenggara, bersama observer dari Cina dan Korea Selatan, tetap melangkah dengan semangat yang tidak surut.
Tujuan mereka sederhana: menikmati jamuan makan malam President CAJ, Low Boon Tat, dari ketinggian salah satu ikon kota.
Menara setinggi 421 meter itu berdiri tegak di tengah Kuala Lumpur—bukan hanya sebagai infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga simbol bagaimana kota ini melihat dirinya dari atas.
Dari pelatarannya, sebuah cermin besar memantulkan bayangan para pengunjung.
Ada yang berhenti, mengambil foto, mungkin sekadar ingin membawa pulang sepotong momen sebelum naik ke langit.
Lift kemudian membawa rombongan ke ketinggian sekitar 300 meter.
Dalam kondisi normal, dari titik ini kota Kuala Lumpur terbentang luas—jalan-jalan yang berkelok, gedung-gedung yang menjulang, dan lampu-lampu yang mulai menyala satu per satu.
Kabut dan hujan menyelimuti hampir seluruh lanskap.
Kota seperti bersembunyi di balik tirai tipis yang terus bergerak.