kolom

Novelet Religi “Sang Tokoh”: [5] Mendadak Khotbah Jumat

Sabtu, 16 Maret 2024 | 05:47 WIB
Wina Armada Sukardi. (f: istimewa)

Oleh: Wina Armada Sukardi

PARA pengurus masjid dekat rumah Sang Tokoh yang berada di saf terdepan, dan masih muda-muda, gelisah. Sudah mendekati azan, tetapi khatib belum datang juga.

Komunikasi terakhir, sejam lalu dengan khatib bersangkutan, dia masih menyatakan bakal datang, tetapi sejak 30 menit lalu tak dapat dihibungi lagi. Telepon genggamnya pun  seperti mati. Padahal, waktu azan tinggal beberapa menit lagi.

Biasanya khatib ini tak pernah meleset janjinya. Paling tidak, 15 menit sebelum azan kalau gilirannya jadi khatib pastilah sudah tiba. Tapi hari ini, tumben, tak seperti biasanya, dia belum hadir tanpa kabar berita.

Dan waktu azan pun tiba. Bilal berdiri melafalkan azan. Para pengurus masjid saling berpandangan. Sementara azan berkumandang para pengurus secepat kilat berunding siapa yang bakal jadi khatib.

Biasanya, kalau khatib tidak datang, dapat dengan mudah diganti oleh khatib yang tersedia dari pengurus masjid. Memang sebagian pengurus masjid mempunyai kemampuan dapat pula merangkap sebagai khatib.

Masalahnya, beberapa orang yang biasa jadi khatib juga sedang tidak ada, baik lantaran sedang bertugas menjadi khatib di masjid lain, atau sedang ada urusan di wilayah lain, sehingga tidak hadir di masjid ini. Pengurus yang hadir kebetulan yang masih muda dan tak pengalaman menjadi khatib. 

Jemaah terus berdatangan. Bagian dalam atas mesjid sudah penuh. Azan hampir selesai. Salat jumat tak mungkin ditunda. Shalat jumat harus dilaksanakan. Menunjuk salah satu jemaah yang datang pun sulit. Waktunya terlalu mendesak. Lagipula pengurus tak hafal  jemaah mana yang mungkin biasa jadi khatib dan yang tidak. Lantas, bagaimana jalan keluarnya?

Hanya beberapa saat sebelum suara azan selesai, para pengurus muda masjid serentak, tanpa dikomando, menunjuk kepada Sang Tokoh. Tak ada pertimbangan khusus. Hanya semacam “feelling” saja di antara mereka Sang Tokohlah yang paling layak jadi khatib pada hari itu. Sang Tokoh terkejut, karena , sebenarnya, dia sendiri belum pernah jadi khatib salat jumat. 

Kendati begitu, bagaimana pun ini amanah yang sulit dihindari. Dia harus melaksanakannya.

“Bismilah,” katanya seraya reflek bangkit dari duduk menuju minbar dan duduk di balik podium. Begitu azan selesai, dia berdiri di podium menghadap jemaah. Sang Tokoh  seperti mendapat bimbingan khusus dari sebuah kekuatan. Dia sendiri heran bagaimana dia dapat membawakan khotbah dengan percaya diri dan lancar.

Seorang jemaah, duduk agak sebelah kanan saf ketiga, langsung mengeluarkan HP dari saku celananya. Dia merasa bakal terjadi skandal dan kehebohan karena Sang Tokoh dinilainya tak mampu menjadi khatib, dan karenanya salat jumat bakal kacau.

Dia pun merekam proses dari awal Sang Tokoh menjadi khatib. Dengan harapan dia dapat video yang dapat langsung viral. Sewaktu Sang Tokoh bangun dari kursi dan berdiri menghadap jemaah, sudah  terekam.

Si perekam tak faham, sejak Sang Tokoh siuman dari tertabrak mobil, dia mengalami proses perubahan yang luar biasa. Semacam metamorfosa. Kemampuan mengingatkan menyamai, bahkan melebihi komputer. Hal-hal yang pernah dibacanya menjadi dapat diingatnya dengan detail.

Kemampuannya terhadap penguasaan bahasa asing, termasuk bahasa Arab, tetiba menjadi menakjubkan. Lafalnya  juga pas. Gaya, aksen, dan diksinya tepat. Sang Tokoh bagaikan memperoleh karomah dari Allah yang tidak semua orang diberikan. 

Halaman:

Tags

Terkini

Dunia Hanyalah WC, Catatan Religi Ramon Damora

Jumat, 12 Juni 2026 | 14:51 WIB

Don Dasco Layak Jadi Wapres, Apalagi Mendagri

Minggu, 7 Juni 2026 | 21:40 WIB