kolom

Sak Dumuk Bathuk Sak Nyari Bumi, Catatan Hendro Basuki

Minggu, 22 Oktober 2023 | 14:51 WIB
Jokowi dan Megawati pada acara HUT ke-50 PDI-P, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1/2023). (tangkapan layar)

MENJADI ahli fisika berbeda jalan menjadi ahli politik. Untuk menjadi ahi fisika tak perlu membaca Physics-nya Aristoteles, atau harus membaca karya Newton, dan Galileo. Tiba-tiba saja, oleh sebuah peristiwa alam yang tak dirancang, seseorang bisa memahami bekerjanya fisika.

Berbeda untuk menjadi ahli politik, kita mesti membaca banyak sekali buku seperti Plato, Aristoteles, Hobbes, Rousseau, Marx, Mill, dan sangat perlu membaca Machiavelli.

Tetapi membaca teks atau buku tanpa interpretasi sangat berbahaya. Sama bahayanya jika salah dalam menginterpretasi. Bahkan bisa menimbulkan kerusakan, korban dalam jumlah besar.

Kesalahan menginterpretasi teks kitab suci telah melahirkan ekstremis dan konflik tak berkesudahan.

Oleh sebab itu, menginterpretasi teks membutuhkan cara, pedoman, metodologi agar teks dipahami secara utuh, baik, dan benar. Meski pun, interpretasi itu sendiri bisa saja dikritisi.

Cara orang menginterpretasi makna teks berdampak pada perbuatan kemudian terkait interpretasi yang dilakukan atas teks.

Interpretasi Pol Pot atas ajaran Lenin dan Stalin menghadirkan horor kemanusiaan. Demikian juga interpretasi Ketua Mao atas teks Marxisme. Atau Hitler menginterpretasi teks dari Nietzsche.

Oleh sebab itu, setiap kali seseorang mengaji sesuatu harus memperlakukan teks bukan sebagai kitab suci. Kenapa? Teks tersebut tetaplah teks yang dihasilkan dari gagasan manusia. Bukan wahyu Tuhan.

Mengungkap Makna

Membaca teks tujuannya adalah mengurangi atau meminimalkan rasa asing dari teks atau menjadikannya lebih familiar dan mudah dimengerti oleh khalayak. 

Teks yang dihasilkan oleh kebudayaan politik sebelum kita, mesti dibaca dengan hati-hati.  Meskipun telah dibaca dengan hati-hati dan cermat, kadang teks tak mampu mengungkapkan seluruh makna sesungguhnya.

Para ahli yang meneliti kebudayaan Mesir kuno sering kali menemui jalan buntu dalam menerjemahkan sesuatu artefak. Demikian juga para peneliti kebudayaan Babilonia, kesulitan memahami makna suatu teks Arkadia.

Sampai hari ini, para ahli masih menafsir apa makna "dusta mulia" ketika Plato menganjurkan penggunaan kata itu. Juga, apa maksud Machiavelli saat membandingkan nasib baik (fortuna) seperti wanita yang harus dipukul.

Menafsir Manusia

Teks yang bertebaran dalam buku kuno saja masih sering sulit diinterpretasi, apalagi memahami manusia politik.

Halaman:

Tags

Terkini

BPN Pekanbaru dan Wajah Buram Perang Melawan Mafia Tanah

Sabtu, 20 September 2025 | 11:38 WIB